April 24, 2013

Turn it Off

Maybe it's time for me to feel bored. Everyone has climax point where they ask themselves what would happen if you chose another direction in your life, will it make better or worse. And every steps felt so wrong, so empty, and all you want to do is disappearing or simply hiding under your blanket doing nothing. You reconsider every words, every acts as an adult and you think that all you have done is just a big waste and nothing can take it back. Have you felt them all? I've been told that's okay to feel because that what makes us human. But sometimes, only sometimes, I don't want to be the wise one and turn it off. The feeling. Yes, the feeling.

April 16, 2013

Kerja di Rumah, yes or no?

Temen saya, Melati, pernah bilang "rumah itu bukan buat kerja, kerja itu di kantor". Hal ini sebenarnya masih  jadi dilema sih (cie dilema..) bagi saya.

Untuk saat ini sih, karena keadaan, saya masih hidup terpisah dengan suami. Kalau misalnya nanti saya dan suami sudah hidup bersama, dan memiliki anak, which one will I choose? Work overtime at office or work at home? Sebagai manusia biasa pada umumnya, tentu ingin kalau kehidupan personal itu terpisah dengan kehidupan di kantor. Betapa indahnya, kalau misalnya rumah bisa menjadi tempat khusus untuk keluarga, sosialisasi dengan teman, istirahat, me-quality time, tanpa terintegrasi dengan kehidupan kantor atau pekerjaan.

Sebelum menikah, saya adalah orang yang saklek dengan "kerjaan kantor nggak boleh dibawa pulang". Mau semalam apapun, saya memilih untuk mengerjakan di kantor demi menjaga kesakralan rumah sebagai my own home, not an office. Saya sangat jarang mengerjakan apapun di rumah, kecuali untuk buka email atau cek-cek sesuatu. Waktu saya masih bekerja di kantor pertama, Sabtu dan Minggu sering sekali saya habiskan di kantor untuk melalap habis pekerjaan.

Setelah menikah, sebagai credit analyst yang job desc-nya jauh dari 8 to 5 schedule, tentunya susah untuk pulang tepat waktu ke keluarga karena terkadang ada saja kerjaan yang menuntut kita untuk bekerja overtime, terutama ketika deadline sudah menanti-nanti. Bagi saya pribadi, hal ini terpaksa membuat saya melanggar komitmen saya sendiri ketika pertama kali bekerja. Alasannya apa? Karena saya ingin menghabiskan waktu saya dengan  keluarga/suami walaupun sebentar. As simple as that. Memang kualitas bertemu akan berkurang karena saya curi-curi waktu untuk bekerja. Tapi kalau misalnya istirahat selama lima menit dari pekerjaan bisa dihabiskan dengan cuddling dengan suami? It's priceless. Asal jangan kelewatan lho. =p


Sabtu dan Minggu pun sekarang saya habiskan di rumah. Ya alasannya itu diatas, for the sake of our limited time. Tentunya hal ini membutuhkan komitmen yang besar juga sih, karena kerja di rumah itu banyak sekali godaannya. Tapi kalo komitmen ini bisa dijaga dengan baik, insya Allah, we can do both, family and work.

Saya terinspirasi juga dengan Mas Andri Pradono. Mas Andri ini punya prinsip, nggak papa dia kerja overtime, selama dia bisa melakukan itu di rumah. Nggak jarang dia bekerja setelah istri dan anaknya tidur. It's a wow.

Saya nggak tahu deh kalo misalnya saya punya anak gimana. Belum bisa membayangkan apakah saya sanggup bekerja dengan "gangguan" anak, atau bisa menahan diri dari kelucuan anak. Let's think about it later. Mudah-mudahan kedepannya komitmen di keluarga dan pekerjaan bisa berjalan dengan baik di kehidupan saya ya! :D

PS.   Terima kasih Melati atas inspirasinya.
PPS. Terima kasih juga untuk survey work-life balance yang diadain kantor saya sehingga menginspirasi tulisan ini. :)

April 15, 2013

Giveaway!!!

Check my books giveaway HERE! Four free books for four winners!

April 08, 2013

Hidden Gem Sukabumi: Rumah Bakso 3 Dara


Waktu saya kecil, Bakso 3 Dara ini lumayan terkenal di Kota Sukabumi sebagai salah satu bakso terenak. Cuma waktu saya SMP/SMA, bakso ini menghilang entah kemana. Nah, kemarin dikasih tau tempat ini sama salah seorang teman saya, nggak tahu apakah Rumah Bakso 3 Dara ini sama seperti Bakso 3 Dara yang dulu itu. Kalo liat dari salah satu poster yang ada di tempat itu, tempat ini juga baru dibuka bulan Januari 2013.

Lokasi Rumah Bakso 3 Dara ini ada tepat di depan Kolam Renang Rengganis. Tempatnya nyaman, luas, ada free wifi (penting buat saya), dan merupakan home base Manchester United region Sukabumi (penting buat suami). :))



Waktu saya datang kondisinya sepi, karena bukan jam yang lazim buat makan siang juga kali ya. Lebih ke snack sore jatuhnya. Tapi pas mau pulang, tamu yang datang sudah lumayan banyak. Karena baru pertama kali datang, saya pesan bakso komplit dan jus alpukat (guilty as charged!), sedangkan suami pesan mie ayam komplit dan jus sirsak.


Do I love its bakso? Not so much. Kurang asin kalo menurut saya. Tapi kalo udah ditambah garam dan sambalnya sih enak. Bakso uratnya juga so-so enaknya. Untuk baksonya nothing special sih. Tapi mie ayamnya enak! Duh, cuma nyocol kerupuk pake saos mmie ayamnya aja yummy banget. Guess what? Suami nambah satu porsi lagi, bikikikikik..

Jusnya juga enak, nggak sempet nyobain yang sirsak soalnya langsung diabisin (grrr..), tapi yang alpukat enak lah, kental, susu cokelatnya banyak dan yang paling penting harganya cuma Rp. 6.000,-! Duh, surga banget nggak sih? Kalo mie ayam dan baksonya kalo nggak salah sih seharga Rp. 12.000,- - Rp. 13.000,- ya, rada lupa..

Will I come back? Definitely! Soalnya kemaren tergiur juga sama mie goreng dan capcay-nya, kalo dari gambarnya sih kayaknya enak. Buat nongkrong-nongkrong sama temen-temen seru banget nih, soalnya kan bisa internetan gratis (hehehe, pencinta gretongan). Kalo suami sih, mau balik kesini apalagi kalo ada acara nonton bareng. =p Dipake arisan keluarga juga kayaknya seru, secara di dalam ternyata ada ruangan yang lebih besar lagi. Jadi kalo mau nyari warung bakso yang nggak jual bakso doang, mungkin salah satu alternatifnya bisa maen kesini yah!

PS. Makasih buat @primamaliki yang udah ngasih tau tempat ini. :)

April 04, 2013

[MOVIE REVIEW] Olympus Has Fallen

Karena waktu itu pilihannya tinggal Olympus Has Fallen, The Croods (3D), atau GI Joe yang baru itu, akhirnya pilihan suami dan saya jatuh ke film "Olympus Has Fallen". Alasannya sih gara-gara pernah liat di timeline ada yang muji film ini. :p


Walaupun selama film diputer kita banyak mengelurkan "Why???" tapi so far filmnya sukses bikin saya deg-degan sepanjang film, dan kesel setengah mati sama main villain-nya film ini. Emang bener sih katanya kalo popcorn movie mah jangan terlalu dipikirin, dinikmati aja.

Alkisah, ada seorang ex-Secret Service yang bernama Mike Banning (Gerard Butler). Mike ini diberhentikan dari Secret Service karena gagal nyelamatin First Lady waktu terjadi kecelakaan pada saat Presiden dan keluarga pergi ke charity party dari Camp David. Dipekerjakanlah si Matt ini di bagian kebendaharaan, desk job, dan seperti yang udah diduga, orang lapangan yang notabene masih jago ini bosanlah sama kerja kantoran dan pingin balik lagi ke Secret Service. Cuma kalo kata si Kepala Secret Service, setiap kali presiden liat Mike, dia inget lagi sama kecelakaan tragis yang mengambil nyawa istrinya, jadi permintaan Mike ini belum bisa dikabulkan.

BTW, betah abis ya kalo presidennya Aaron Eckhart. Kayaknya tiap pidato gw tongkrongin terus kalo dia yang jadi presiden, hehehe.. :p


One day, ketika lagi ada pertemuan antara POTUS sama Perdana Menteri Korea Selatan (yang jadi PM Korsel ini bapaknya Mike Chang di Glee!), tiba-tiba ada pesawat tanpa identitas mendekati Washington DC. Nah ini why yang pertama. Lah kok aneh, negara se-adidaya Amerika ngebiarin aja pesawat tanpa identitas masuk aja ke wilayah dia? Lebih anehnya lagi, si pesawat itu bisa tembus ke Ring 1, ngedeketin White House. CMIIW, tapi setau saya sih nggak boleh ada pesawat yang masuk ke radius berapa kilometernya White House.

Tapi yasudahlah nggak usah terlalu dipikirin ya kenapa-napanya. Intinya si pesawat mulai nembakin semua orang yang ada di jalanan Washington tanpa pandang bulu. Karena ada serangan ini, Presiden dan tamu-tamunya semua diungsikan ke bunker yang ada di bawah tanah White House, yang dinamakan Olympus. Semacam bunker darurat gitu yah. Sebenernya protokolnya sih, bunker itu cuma buat Presiden dan orang-orang tertentu aja, cuma si Presidennya ngotot supaya PM Korsel beserta pengawal-pengawalnya juga ikut masuk ke bunker tersebut.

Di luar White House, serangan makin menggila, dan pasukan nggak dikenal ini mulai masuk ke dalam White House, nembakin Secret Service yang melindungi White House. Si Banning yang mendengar ada keributan, langsung datang nyamperin White House yang lagi ditembakin. Why-nya muncul lagi disini. Ini kemana sik pasukan lainnya sementara Secret Service diberondong senjata secara brutal gitu? Angkatan darat? Laut? Udara? Kopassus? Terus emang Secret Service nggak punya strategi ya, atau semacam SOP-nya kalo White House diserang? Instead, mereka malah berbondong-bondong keluar kayak anak SD maen tembak-tembakan. Oh well, jangan mikir Dela, jangan..

--- SPOILER ALERT (continue at your own risk) ---

Nah, ternyata salah satu pengawal PM Korsel yang namanya Kang Yeonsak, itu adalah pimpinan dari penyerangan ini. teroris dari Korea Utara ini dibantu oleh ex-Secret Service agent yang sekarang jadi private security, untuk merencanakan serangan ke White House. Canggih beuh, bisa kayak gini. Dan karena dia udah ada di bunker sama si Presiden dan orang-orang penting lainnya, dia akhirnya ngebunuh PM Korsel dan ngancem ngebunuhin Presiden dkk demi mencapai tujuannya. Agar Amerika menarik militernya dari Semenanjung Korea sehingga bisa mengakhiri perang saudara. Selain itu dia juga berencana untuk meledakan persediaan nuklir AS yang nota bene bisa menghancurkan negara AS itu sendiri. Motifnya balas dendam karena kematian orang tuanya, terus ada motif-motif lain yang saya kurang ngerti. Kemiskinan di Korut? CMIIW again, Korea Utara menutup dirinya sendiri kan gara-gara pilihan negaranya sendiri bukannya?

Nah, kesananya udah rada ditebak kali ya. Si Banning ala-ala Rambo gitu, sendirian menerobos White House demi menyelamatkan Presiden. Literally sendirian. Mirip Bruce Willis di Die Hard gitu, dia nggak mati-mati walau ditembakin sana sini, sementara temen-temennya udah pada mati semua. Why oh why.

Walaupun endingnya udah pasti, tapi nonton film ini cukup menghibur kok. Gerard Butlernya oke banget, yang jadi Kang Yeonsak pikeuheuleunnya bukan main, rasanya saya nggak rela dia kalo mati begitu aja. Kalo saya jadi Banning, si Kang ini saya siksa dulu dah pelan-pelan #sadis

3.5 of 5 stars.  Do not ask why. =p

The Choice

Sebenarnya kalo dipikir-pikir, hidup itu pilihan ya. Proses memilih, hasil pilihan, dan kemauan untuk memilih. Keputusan kita di masa lalu yang akan membawa kita ke masa sekarang. Pilihan kita di masa ini yang akan menentukan hidup kita di masa yang akan datang.

Jadi harusnya nggak ada dong yang namanya stuck point? Menurut saya sih seharusnya nggak ada ya. Wong setiap kita terjebak dalam suatu situasi yang tidak mengenakkan, selalu ada pilihan yang bisa membawa kita keluar dari situasi itu. Ke situasi yang lebih baik, atau bisa aja situasi yang lebih buruk.

Terus harus gimana? Menurut saya, setiap manusia harus bertanggung jawab sama pilihannya masing-masing. Dan harus berani untuk memilih. Kalo misalnya lo stuck di suatu point, dan lo nggak bisa kemana-mana lagi karena lo takut untuk memilih, siapa yang lo harus salahin? Every choices come with their own consequences, whether it's good or bad, you'd better face it.

Jadi salah sih kalo ada yang bilang, "wah, ini mah udah terlanjur", atau "wah, gue kayaknya stuck gini aja soalnya bla bla bla". Karena menurut saya, nggak ada yang namanya stuck point. Pilihan sulit? Ada. Pilihan yang salah? Ada juga. Stuck point? No, as long as you have choices.

April 01, 2013

[MOVIE REVIEW] The Host

Walaupun saya suka ngenye-in Twilight Saga The Movie, tapi tetep penasaran dong ketika The Host-nya Stephenie Meyer dibuat film? Bukannya apa-apa sih, I found the book was entertaining, dibanding si Twilight itu sendiri. Apalagi saya penasaran gimana mereka menggambarkan Melanie dan Wanda yang hidup dalam satu tubuh?


Dari awal saya udah menekan ekspetasi saya serendah-rendahnya. Tapi mungkin gara-gara itu ya, filmnya jadi terasa menghibur sekali. Tentu aja banyak adegan-adegan yang mengundang komentar sarkas, tapi selama ada si cakep Jared (Max Irons), who cares lah ya?

sluuuurp, nyahahahhaa.. :D
Jadi tersebutlah bumi dalam keadaan damai, rukun, teratur dan bahagia. Bahagia? Oh ternyata enggak, bumi telah diinvasi oleh makhluk luar angkasa (yang menurut saya mirip jellyfish yang bersinar-sinar), yang membutuhkan semacam inang untuk hidup. Makhluk ini yang disebut-sebut sebagai "soul" masuk kedalam tubuh manusia, dan kemudian menggunakan tubuh manusia itu untuk hidup. Sebelum menguasai bumi, makhluk-makhluk ini telah berkelana dari satu planet ke planet lainnya untuk menemukan inang yang cocok.

Lalu bagaimana dengan manusia? Terlepas dari hampir seluruh manusia sudah dikuasai, ada beberapa manusia yang berusaha mempertahankan jati dirinya. Melanie Stryder adalah salah satunya. Bersama adiknya, Jamie Stryder, dia mempertahankan hidupnya, lari dari Seeker yang berusaha mencari sisa-sisa manusia yang masih ada untuk digunakan sebagai inang dari "soul" yang akan datang ke bumi.

Di perjalanannya, Melanie bertemu dengan Jared, yang sudah tidak bertemu manusia selama berbulan-bulan. Singkat cerita, mereka jadian lah ya, apalagi katanya tanggung jawab meneruskan generasi manusia ada di tangan mereka berdua :p Nah, disinilah dimulai adegan-adegan kayak film India. Lari-lari di hujan, kejar-kejaran. Poor Jamie, he always be a background while his sister and Jared take main stage.


Jamie melongo sendirian di belakang, sementara kakak dan calon kakak iparnya berpelukan mesra.
Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Melanie ini akhirnya tertangkap juga, sementara Jared dan Jamie berhasil kabur. Tubuh Melanie digunakan untuk "soul" bernama Wanderer. Nah disinilah konflik terjadi karena ternyata Melanie nggak sepenuhnya mati. Dia mencoba melawan Wanderer yang berusaha untuk membantu Seeker dalam mencari lokasi Jared dan kumpulan manusia lainnya.Wanderer yang galau ini akhirnya setuju untuk mencari persembunyian paman Melanie beserta kumpulan manusia yang selamat diantara gunung di tengah-tengah gurun pasir yang luas.

Singkat cerita lagi, Melanie/Wanderer ditemukan oleh paman Melanie (Jeb) dan dibawa ke tempat persembunyian mereka di dalam gua-gua gunung. Awalnya Wanderer akan dibunuh, namun Jeb nggak tega karena Melanie merupakan keponakannya sendiri. Nah disinilah Wanderer ketemu sama si Ian yang menurut saya cakepnya kalah sama Jared, cuma didukung penuh sama suami saya. He's better than Jared, my husband said. Oh okelah.


Karena si Ian ini baik sama Melanie/Wanderer, nggak disangka, Wanderer (yang sekarang dipanggil Wanda) jatuh cinta dunk sama Ian. Cinta segiempat pun terjadi antara Jared-Melanie-Ian-Wanda, dimana everything become complicated karena kan Melanie dan Wanda ada di dalam satu tubuh. Pusing nggak lo? Yang katempuhan seneng sih Saoirse Ronan, abis dia dapet kissing scene sama Max Irons, semenit kemudian dia ciuman sama si Jake Abel. And she get paid. Lucky biatch. :)))


Yang bikin seru lagi, pemilihan villain yang super nyebelin tapi cantiknya nggak sante. Miss Diane Kruger is very hot and dedicated villain.


Saoirse Ronan is perfection. I love her. Awaaaas aja kalo ada yang nyamain dia sama Bella-nya Kristen Stewart. Jauh boook.


Jadi intinya? Nonton aja lah dan jangan banyak mikir. Really entertaining popcorn movie. Endingnya rada ketebak sih, tapi eh apa karena saya udah baca bukunya ya? :p 
Maybe I'll give 3.5 of 5 stars, because it made me laugh so often. Kalo yang ragu-ragu, bisa cek trailernya dulu dibawah ini.


Happy Three Days : Cimory Riverside

Last series from Happy Three Days, prev posts can be viewed here and here.

Hari terakhir liburan harus kembali ke Sukabumi. Instead lewat Ciawi-Cicurug-Cibadak-Cisaat-Sukabumi seperti biasa, kita berdua memutuskan untuk lewat Puncak Pass-Cipanas-Cianjur-Sukabumi. Perubahan pemandangan lah sekali-kali. Setengah jalan baru inget kalo dari dulu pingin banget ke Cimory Resto yang ada di Puncak. Eh, tapi google dan liat di timeline twitter, katanya Cimory Riverside ini lokasinya lebih kece dibanding yang resto. Nggak bisa ngebandingin juga sih karena saya belum pernah datang ke restonya.

Dari seberang jalan, Cimory Riverside keliatan penuh banget, parkirnya aja sampai meleber keluar-keluar. Wah, kebat-kebit pasti waiting list. Ternyata emang nunggu sih, tapi nggak terlalu lama juga, karena lokasinya juga luas, walaupun cukup banyak orang masih banyak kursi yang kosong.


Selama menunggu saya jalan-jalan di sekeliling restoran terlebih dahulu. Lokasinya luas, terletak di tepi sungai (itu sungai apa ya?) yang airnya masih jernih sekali. Ada playground untuk anak-anak, terus taman yang relatif luas, jadi anak-anak pasti senang sekali untuk main-main di sekitar situ. Lokasinya dibagi dua sayap, sayap kanan adalah toko yang menjual berbagai makanan dan souvernir, sayap kiri adalah restorannya. 


Nggak sampai sepuluh menit saya sudah dapat tempat duduk di area non-smoking. Belum lama duduk, stafnya datang menawarkan saya untuk pindah ke tempat duduk di pinggir sungai. Senangnya! :)


Walaupun cuaca diluar panas terik, tapi di dalam restoran ini suasananya adem, padahal saya nggak ngeliat AC atau kipas angin satupun. Apa instalasinya tersembunyi? :p Anyway, betah sekali di restoran ini, makanan yang dipesan pun tidak lama datangnya, padahal suasananya ramai sekali.

Pesanan saya chicken cheese and spinach + strawberry yoghurt shake. Pesanan suami iga bakar + lychee ice tea. Jangan ditanya, enak semua rasanya, apalagi iga bakarnya, duh. Untuk makanannya saya rada lupa, kalo nggak salah harganya Rp. 40.000,- + sedangkan minumannya Rp. 20.000,- +. Pingin pesen susu cimory-nya juga, cuma ternyata makan satu hidangan aja udah kenyaaang. :)

Abis makan, jalan-jalan ke sungai dibawah. Bagus banget, cuma sayangnya panas. Terus abis itu, ke sayap kiri buat jajan. Tokonya Cimory ini budget-wrecker deh segalanya pingin dibeli. Ada toko coklat baru yang namanya Chocomory. Kalo nggak salah di lantai duanya ada Chocolate Factorynya dimana kita bisa liat cara pembuatan coklat-coklat yang dijual di Chocomory. Sayang waktu itu udah siang dan ngantuk, jadi memutuskan untuk langsung pulang deh. Di Chocomory ini tersedia sample dari berbagai rasa coklat yang dijual. Favorit saya Almond Crunch.



Over all bahagia banget di Cimory Riverside ini dan absolutely want to come back here! :)

Jadi, gimana tiga hari liburan kalian kemarin? :)

Happy Three Days: Sabtu Ceria

Setelah suami ikut berkomitmen dengan aktivitas lari setiap minggunya, lari jadi lebih menyenangkan. Yaiyalah, jadi ada temen ngobrol, temen ngasih semangat, dan temen berkompetisi. Karena kebetulan weekend ini ada di Jakarta, kita berdua memutuskan untuk lari pagi di Taman Mini. Pertama liat tracknya rada ciut karena kok jauh ya, hehe, tapi setelah perundingan dan alasan kan-nanti-juga-bisa-jalan-kalo-capek akhirnya off we go lari. 

And we reached our first 5 km non-stop here.


Hua, senangnya! Dan nggak kerasa.. (boong ding, kayak mau mati terakhirnya). Maksudnya karena kita lari cuma target dua puteran, dan sama sekali nggak ngecek endomondo, jadi rada surprised aja pas liat jaraknya setelah lari. Wohooo..senang, senang, walaupun masih lelet, tapi sebodo ah, yang penting happy. :)

Siangnya kita pergi ke Balai Kartini karena disana ada event BNI Sports Experience. Jadi BNI kerja sama dengan Nike menghadirkan semacam bazar gitu. Kepo banget, walaupun rada bimbang secara sepatu lari masih oke, tapi kan kan sepatu trainingnya udah ancur gitu. Secara budget aja sebenernya nggak ada budget buat sepatu, hihi.

Nggak sempet foto-foto karena uda kalap banget liat semua orang bawa plastik orange keluar dari Balai Kartini. Dan pas masuk, kalap banget karena banyak banget item yang didiskon. Sepatu, kaos, jaket, training, sport bra, tempat minum, sport watch, tas, yoga mat.... huhuhuhu, bonus oh bonus, mengapa engkau belum keluar sik?? Pingin beli semua inih..

Setelah muter hampir kelima kalinya, akhirnya pilihan saya jatuh ke Nike Sister One, sepatu training yang menurut saya caem dengan diskon yang nyaris mencapai 50%. :p Warna yang dipilih warna ungu, ada yang warna pink juga, keren banget, tapi last piece dan nggak ada ukurannya, hiks. Sempet dilema berat dengan Nike Free Run, tapi kan sepatu larinya masih bagus yaaah (denial). Jadi sampai ketemu tahun depan deh.

Pas udah mau ke kasir, ngelewatin Special Booth yang awalnya males banget nyamperin karena sepatunya udah tinggal dikit. Tapi akhirnya iseng mampir, dan suami langsung jatuh cinta sama Nike Incinerate, yang harganya miring banget! Huhuhu, iri, kompetitip deh saya kalo diskonnya suami lebih besar, hehehehe..

Ini sejak kapan cinta sama sport appareal kayak gini ya?


Sempet nonton Olympus Has Fallen setelah dari Balai Kartini, dan abis itu mati gaya. Have we changed to the couple who love being at home whole day? Karena literally nggak tau harus kemana, akhirnya kita mampir ke... Taman Ismail Marzuki. Hahahaha, beneran nggak tau kenapa bisa sampai sini. Tapi nggak nyesel, karena siangnya baru bilang suami pingin soto lamongan seenak soto yang biasa dibeli waktu kuliah di Semarang dulu, dan nemu si soto itu disini! Selain soto banyak banget warung makan berjejer di dalam TIM. Dan nggak ngeh kalo ada XXI-nya juga disana! 


Saya pesan soto sulung, dan suami pesen soto ayam. Rasanya enak, dan dari awal kita pilih warung makan yang ini karena pengunjungnya lebih rame dibanding warung sekelilingnya. Satu porsinya kalo nggak salah Rp. 19.000,-. Welcome jeroan, long time no see, T____T

O ya, do you follow The Voice US? Season 4 has started last week, awalnya rada males nonton karena nggak ada Ceelo dan Christina, tapi ternyata Shakira dan Usher sama gilanya! Check this.


Udah selesai makan-makannya? Oh tentu beluuum. Next post ya, penutup serial Happy Three Days ini. :)

Happy Three Days: Steak Hotel by Holycow

Jadi ngapain aja liburan kemaren? Makan duuunk. Haha, literally makan, dan nyelipin lari diantaranya, dan makan lagi, dan nonton, dan makan lagi. Hahaha, kalo soal filmnya nanti saya review di posting yang berbeda aja ya, sekarang kita ngomongin tempat-tempat yang seru yang kita datangin kemaren (baca: tempat makan).

Jumat malam akhirnya setelah sekian lama bisa datang ke Steak Hotel by Holycow. Holycow ini kalo nggak salah setelah pecah kongsi jadi ada dua jenis, yang satunya lagi Holycow Steakhouse by Chef Afit. Karena kemaren pas lagi ada di daerah Kemang, makanya saya dan suami mampirnya ke Steak Hotel by Holycow. Lokasinya dimana ya, ancer-ancernya, malem soalnya gelap, tapi kayaknya mah udah pada tau yah, wong kita kayaknya orang terakhir yang belum pernah ngerasain Holycow. Hehe, Abuba mania sik, sebenernya malem itu juga kita mau cao Abuba, tapi waiting listnya booook, banyak amat. Nyari yang terdekat ya ke Holycow ini akhirnya.

Nggak banyak ambil foto disana, soalnya bete. Hiks. Abisnya pas datang emang udah malam sik, tempat parkirnya kecil, jadi harus nunggu ada yang keluar dulu. Terus di depan ada beberapa orang yang nunggu, saya udah mikir pasti waiting list nih, tapi kok nggak ada petugas yang nungguin. Akhirnya kita ngeloyor masuk aja, ketemu mas-masnya di dalam, dan disuruh nanya ke mbak kasirnya. Sama mbak kasirnya kita disuruh langsung duduk, yowislah langsung duduk kita. Usut punya usut ada yang waiting list, tapi kan kita nggak tahu ya.. huhuhu, jadi merasa bersalah duduk duluan.

Kita berdua dapat tempat duduk depan kasir di lantai dasar, sharing sama empat orang lainnya karena penuh nuh nuh banget. Karena emang malem kali ya, menunya udah pada abiiiis. Suami saya sampai berulang kali pesen, soalnya yang dibilang ada, akhirnya nggak ada juga. Steaknya yang tersisa literally tinggal wagyu sirloin aja. Akhirnya suami pesan wagyu sirloin, dan saya pesan bergyu (burger wagyu).

Foto jelek karena diambil pake kamera BB dan penerangan temaram.

Harga untuk wagyu sirloinnya Rp. 105.000,- dan bergyunya Rp. 44.000,-. Rasanya sih enak, cuma karena pelayanannya lama dan menurut saya rada keteteran sih, jadinya rada bete aja. Lokasi juga lebih prefer di Abuba, karena kebetulan dapet temen sharing yang berisik banget. Wagyunya rada kematengan ya, emang kita pesen well done, tapi pas dilihat dagingnya udah putih banget, kayak kematengan gitu. Yasudahlah, karena banyak banget kali ya pesenan hari itu.

So far sih, nggak terlalu pingin balik kesini lagi. Mungkin nanti kembali ke Abuba, atau nyobain Mastro Meat Market di Wolter Monginsidi aja. :p