Pages

Showing posts with label motherhood. Show all posts
Showing posts with label motherhood. Show all posts

January 14, 2018

To the Moon and Back

Punya anak berkebutuhan khusus membawa banyak perubahan di dalam hidup saya. Yang paling terasa sih, saya menjadi less-competitive person. Rasanya sejak kecil saya selalu diberikan ekspektasi yang (saya pikir) cukup tinggi, harus selalu rangking satu, masuk akselerasi, IPK almost 4, orang tua saya tidak mau menandatangani buku ulangan kalau nilainya dibawah sembilan. Saya menjadi orang yang sangat kompetitif, not that a bad thing, dan mungkin sedikit entitled (?) karena (hampir) selalu bisa memenuhi seluruh ekspektasi yang diberikan kepada saya. Menjadi mahasiswa di umur 16 dan lulus di umur 20? Lumayan juga kan?

Jeleknya, saya selalu merasa terlalu keras dalam hidup saya sendiri. Once, my boyfriend (now my husband) said to me, you treat yourself too harsh. Gak pede. Selalu merasa ada yang kurang. Perfeksionis? Entahlah. Dan ini terbawa sampai saya kerja dan menikah.

Ketika saya punya Zafran, jujur saya mengingatkan diri sendiri, saya HARUS menerima anak ini apa adanya. Maybe, I would be half tiger mom, but yeah.. I really didn't know. Eh, turned out ternyata Zafran memiliki speech delay. Anaknya impulsif. So far Zafran tidak (belum?) didiagnosa masuk ke spektrum autis atau ADHD, tapi impulsivitasnya dinilai cukup tinggi.

Dan, punya anak seperti Zafran mengubah saya. Bisa dibilang hikmah? I don't know. But I learn to slow things down. Cool it a bit. Let it go. Ada beberapa jenis orang di hidup ini, ada yang menganggap hidup sudah sulit, why's so serious? Ada yang menganggap kerja keras dalam hidup ini sangat dibutuhkan karena untuk itulah kita hidup. Saya juga tidak tahu yang mana yang paling benar. Tapi saya belajar kalau ternyata menyederhanakan sesuatu, mengambil "pause" dalam hidup itu penting. Saya nggak mau mengatakan ini pengorbanan, karena saya yang memilih untuk punya anak (walau beberapa kali tersirat dalam hati sih, duuuuh Mama rasanya sudah berkorban banyak banget buat kamu nak..) jadi untuk bilang saya sudah berkorban demi Zafran rasanya gak fair kan?

Saya belajar untuk memperlambat hidup. Being less-competitive. Berhenti kerja, which is not gonna happen with five years ago-Dela. Gila lah, jadi wanita karir, memiliki gaji yang tinggi dan membawa keluarga saya ke next level wealthness itu salah satu goal saya dulu. Zafran masuk bilingual preschool? Zafran bisa menyusun tiga kata tanpa tercerai berai aja saya sudah alhamdulillah.

Jadi, walaupun terdengar amat klise, memang segala sesuatu itu ada hikmahnya. Note to myself, punya Zafran itu ada hikmahnya.




--- this is a self reminder how lucky I am to have you, son ---

To the moon and back ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ

September 05, 2017

Tentang Zafran dan Speech Delay

Beberapa kali saya ingin membahas masalah delayed speech pada Zafran, cuma semacam kurang pede euy. Karena keterbatasan pengetahuan dan informasi, yang saya tahu ya cuma dari dokter dan hasil googling dari forum-forum semata aja. Jadi disclaimer postingan ini.... saya hanya bercerita sesuai pengalaman yang sudah saya alami dan konsultasi dari beberapa dokter dan psikolog yang menangani Zafran ya.

Cerita awalnya dari mana ya... secara umum tumbuh kembang Zafran memang termasuk normal, walau selalu saja mepet deadline. Saya lupa sih, kapan pertama kali dia membalikan badan, duduk, merangkak, berdiri dan berjalan, tapi seingat saya semuanya masih masuk ke range normal, walaupun selalu saja di akhir-akhir batas usianya. Saya nggak terlalu cemas pada saat itu, toh katanya dulunya juga ayahnya termasuk terlambat berjalan.

Usia 22 bulan Zafran masih belum bisa berbicara, baru bisa babbling “Enah... enah...”. Itupun saya sebenarnya tidak begitu khawatir, walaupun menurut “kurikulum” seharusnya anak 22 bulan sudah harus bisa menguasai beberapa vocabulary. Hanya pada saat itu saya membuat kesepakatan dengan ayahnya, apabila pada saat usia 2 tahun Zafran belum ada perkembangan, akan kami konsultasikan dengan spesialis anaknya.

Saat Zafran usia 24 bulan, dan belum ada perkembangan dari babblingnya saat itu, saya dan suami datang ke spesialis anak langganan kami. Kebetulan DSA ini juga mengikuti tumbuh kembangnya Zafran, dan dia langsung menyimpulkan sepertinya anak kami memiliki speech delay. Waktu itu kami khawatir sih, cuma karena kurangnya informasi, ya kami menyangka kalau speech delay itu hanya terlambat berbicara tok. DSA mereferensikan kami ke dokter rekam medis, setelah dikonsultasikan dan tes pendengaran (alhamdulillah pendengaran Zafran baik-baik saja, sebenarnya waktu itu selain babbling Zafran juga sudah mulai bisa humming beberapa lagu, hanya memang belum bisa berkata sepatah katapun), Zafran didiagnosa speech delay. Dokter rekam medis saya di Hermina akhirnya “meresepkan” terapi wicara seminggu sekali.

Waktu itu pun saya mengira speech delay ini hanya berpengaruh terhadap kemampuan bicara saja. Zafran memang aktif, walau belum bisa disebut hiper, dan concentration span-nya pendek sekali. Tapi kan memang anak-anak belum bisa berkonsentrasi dalam jangka waktu lama bukan? Zafran sama sekali tidak suka nonton TV pada saat itu, tidak suka duduk bermain, senangnya jalan atau lari-lari saja kesana kemari di rumah. Nonton video pendek dia masih senang, hanya saya batasi karena salah satu saran dari terapisnya adalah mengurangi audio visual di rumah. Orang-orang di sekitar saya berkata, “Ah, anak kecil kan memang seperti itu, gak mau diem” atau “Ah itu mah anaknya belum bisa aja kali, nanti juga bisa sendiri” atau “Anak gw juga dulu gitu kok, nanti juga pinter sendiri udah gedean”, akhirnya saya mencoba membiarkan, walau rasanya memang ada yang salah dengan konsentrasi Zafran.

Selain itu, walaupun Zafran termasuk lincah, akan tetapi Zafran tidak suka bermain di playground yang ada tantangannya. Misal naik perosotan, naik ayunan, naik tangga atau semacamnya, sementara teman-teman sebayanya asyik memanjat-manjat. Naik sofa aja dia nggak mau lho. Inipun saya maklumi dalam hati, karena yaaa.. mungkin memang tipe anak saya seperti itu.

Selain itu, Zafran pun sulit diberi makanan yang keras. Ini memang sedikit banyak salah saya, karena waktu itu saya terlalu menyerahkan perihal makanan kepada pengasuh. Saya memang memasak makanan Zafran sendiri, akan tetapi pengasuh saya sering mengeluh apabila makanan tersebut tidak berkuah karena menurutnya Zafran sulit menelan. Waktu Zafran masih 8 atau 9 bulan pun saya pernah memergoki nasi tim yang saya siapkan dihaluskan lagi oleh pengasuh saya agar mudah ditelan. Padahal saya ingin Zafran bisa belajar mengunyah, akan tetapi saya saat itu pada posisi yang sangat membutuhkan pengasuh, dan akhirnya saya biarkan saja.

Setelah empat bulan terapi wicara, Zafran mengalami banyak perkembangan. Walaupun pengucapannya banyak yang tidak begitu jelas, Zafran sudah mulai mengenal beberapa kosa kata. Pengucapannya baru satu huruf, dan pertanyaannya belum terlalu jelas, akan tetapi pengenalan terhadap benda-benda di sekitarnya sudah lumayanlah. Akan tetapi komunikasi dua arahnya masih jelek sekali. Singkat cerita saya belum bisa ngobrol sama anak saya sendiri.

Pada saat itulah ada ketakutan Zafran menderita autisme. Dokter rekam mediknya meyakinkan saya bahwa Zafran tidak autis, karena responnya masih baik. Akan tetapi memang komunikasi dua arah, konsentrasi dan motorik kasar dan halusnya masih jelek sekali. Kemudian Zafran “diresepkan” terapi Sensori Integritas dan Okupasi untuk melatih konsentrasi dan motorisnya. Oh iya, waktu itu apabila Zafran diajak mengobrol, alih-alih menjawab, dia malah menirukan (imitasi) apa yang saya katakan. Dokter rekam mediknya juga menyarankan agar di rumah Zafran sering-sering diajak berbicara tentang apa saja, agar terbiasa berkomunikasi dan menambah kosa katanya.

Dua bulan setelah itu saya resign. Selain lelah dengan pekerjaan, saya juga merasa bersalah dengan kondisi anak saya. Saya tahu kalau mungkin ini bukan salah saya semata, tapi dokter berkata salah satu penyebab speech delay anak saya adalah kurangnya stimulasi di rumah. Memang benar ada anak yang tumbuh kembangnya baik-baik saja tanpa harus ada stimulasi apapun, tapi sayangnya anak saya tidak termasuk anak-anak itu. Penyebab lain speech delay adalah oral-motor issues yang dapat disebabkan oleh autisme. Akan tetapi dokter saya meyakinkan saya kalau Zafran tidak autis, dan penyebabnya lebih ke stimulasi dan efek psikologis dari cara membesarkan anak di rumah.

Setelah Zafran setahun diterapi, saya berinisiatif mendatangi salah satu psikolog yang juga memiliki development center untuk anak berkebutuhan khusus. Tempat terapinya ini sudah ada dimana-mana jadi sepertinya kredibilitasnya cukup baik. Saya menanyakan hal yang sama, apakah anak saya memiliki autisme. Jawabannya tetap tidak. Zafran memiliki apa yang dinamakan speech delay in absentia, dimana gangguan konsentrasinya cukup parah. Dia juga mengiyakan apa yang dikatakan dokter rekam medik saya yang terdahulu, bahwa penyebabnya adalah stimulasi dan cara parenting di rumah. Selama ini saya membiarkan Zafran menggunakan tangan kanan dan kirinya, ternyata itu tidak dianjurkan. Saya baru tahu kalau Zafran sebaiknya dianjurkan menggunakan tangan kanannya, agar otak kirinya bisa terus bekerja, dan meningkatkan daya konsentrasinya. Hanya boleh menggunakan satu bahasa saja di rumah. Tidak mengiyakan permintaan anak kecuali si anak mengatakan apa maunya. Terkadang saya suka mengambilkan susu misalnya apabila Zafran menunjuk susu. Hal itu sebaiknya dihindari, supaya anak bisa menyampaikan maunya melalui kata-kata.

Selain itu penggunaan gadget, tv atau bentuk audio visualnya saya kurangi. Zafran diminta diet gula dan gluten oleh psikolognya, dan saya ikuti. Sebisa saya. Hehehehe. Untungnya Zafran belum dibiasakan jajan, sehingga dia jarang meminta biskuit atau wafer. Roti dan mie juga saya kurang seminggu sekali. Yang sulit memang kerupuk (!) dan susu uht vanilla, karena sejak lepas ASIP, Zafran saya beri sufor berperasa, jadinya setelah itu dia tidak mau susu UHT yang plain.

Saat ini Zafran mengikuti 4 jenis terapi, behaviour therapy, sensory integrity, terapi wicara dan okupasi terapi. Total terapinya enam jam saja seminggu. Selain itu Zafran saya ikutkan playgroup dari Senin sampai Jumat untuk mengasah aspek sosialnya, karena salah satu efek dari speech delay ini adalah kurangnya tingkat sosial anak dan kesulitan bonding dengan teman sebaya. Banyak kok yang komentar kasian banget anak umur tiga tahun sudah “disekolahkan” sedemikian rupa. Saya juga kadang kasian kok liat Zafran. Cuma sekarang anaknya sudah terbiasa, jadi sepertinya dia enjoy saja. Tidur siang saja sudah jarang. Untungnya sekolah alam dan tempat terapi yang dia ikuti punya konsep yang fun, sehingga anaknya seperti diajak bermain. Saat ini malah Zafran lebih excited kalau harus terapi dibanding sekolah, hehe..

Di rumah saya juga melakukan “terapi” pada Zafran. Dari mulai saya ajak bicara terus-terusan, menggambar, mewarnai, membaca kartu. Sebenarnya hal-hal yang remeh keliatanya, tapi percaya deh sulit dilakukan pada anak yang tingkat konsentrasinya rendah.

Sekarang usia Zafran tiga tahun tujuh bulan. Tepat hari ini. Kosa katanya sudah lumayan sekali, terapisnya bilang dia termasuk anak yang mudah mengingat. Sudah bisa berkomunikasi lumayan baik, walau kadang-kadang orang lain (selain saya) suka kurang memahami perkataannya. Masih suka out of place di tengah pembicaraan, yang diomongin apa, tau-tau dia nyeletuk apa atau nyanyi apa. Sulit dijelaskan, bakalan tahu kalau sudah pernah berinteraksi dengan Zafran. Sudah bisa naik tangga sendiri, tapi turun tangga masih suka takut. Sudah mau main perosotan, walau kadang suka mandeg di puncak atau teriak-teriak heboh pas meluncur kebawah.

Kadang saya suka takut membayangkan masa depan anak saya. Saat ini semuanya masih abu-abu, suami saya sih bilang sepertinya Zafran itu normal walau termasuk yang terlambat. Saya masih takut sih, walaupun saya yakin pasti ada jalan kedepannya. Tahun depan Zafran seharusnya masuk TK A, apakah dia sudah bisa dimasukkan TK? Apa dia bisa masuk SD sesuai dengan jadwalnya? Saya nggak tahu. Yang pasti saat ini saya dan suami berusaha memberikan yang terbaik aja buat Zafran, selama kami bisa.


March 23, 2015

Son is turning 1

Posting ini sebenarnya amat sangat telat, karena udah lewat sebulan lebih. Apa daya Februari anak dan suami bergantian sakit (huhu) jadi bener-bener deh sebulanan itu sibuk aja. Terus Maret ini adalah bulan yang sangat penting buat bankers (you know who you are, bankers!), jadilah ngga bisa terus update blog.

Jadi ada apa dengan Zaf? Di umur 13 bulan ini Zaf baru belajar ditatih, kalo kata orang-orang sih telah ya, tapi worry not sih, katanya kalsium Zafran ke gigi dulu, karena giginya Zafran sekarang udah sembilan! Hehehe.. ya sudahlah ya, no more comparisons with other kid (walopun emaknya tetep suka stalking-stalking instagram lain, haha).

Teruuus, Zaf udah bisa makan nasi! Haha.. kayak gitu aja dibanggain ya, whatever, ada saat-saatnya males banget masak buat Zafran, tapi sejak Zafran udah bisa mamam nasi walaupun masih berhamburan kemana-mana, berkuranglah satu kerempongan bikin bubur atawa nasi tim. BTW sih sekarang lagi seneng-senengnya masak (eciee..) soalnya anaknya juga lagi seneng-senengnya makan (alhamdu? lillaaaaah..). 

Dan apalagi apalagi? Aduh seriously masih dibayang-bayangin sibuknya bulan Maret, jadi inti ceritanya mau sharing foto-foto aja kali yah.






Bye! Til next time!

February 03, 2015

Semarang, Here We Come!

Karena terakhir kali Zafran ketemu eyangnya pas dia masih empat bulan (atau lima?) jadi tahun ini gol-nya Zafran bisa dibawa pulang kampung ke Semarang. I know, I know.. banyak banget ibuk-ibuk yang bawa anak bayiknya pergi-pergi jauh dengan usia yang lebih muda, tapiiii..buat saya jiper juga ya.. ngebayangin bawaannya Zafran (ASIP gimana ASIP? Mana hasil pumping lagi menurun lagi.. More on that later..). Tapi ya masa Zafran gak ketemu eyang sama pakle bukle-nya sih setelah sekian lama? Selain itu saya sama suami punya prinsip yang sama lagi, buat mudik bebawa anak pas lebaran... errr.. nanti dulu deh! Ribet dan pasti trafficnya nggilani. Awal-awal tahun ini sebenarnya waktu yang pas banget karena load kerja saya sama suami juga belum terlalu banyak.

Awalnya masih santai karena rencana pergi ke Semarang masih di bulan Februari, namun karena suatu hal (yang mana sekarang saya lupa apa suatu hal itu, hahaha..), akhirnya schedulenya dimajuin ke tanggal 17 Januari! Hehe, panik... panik.. akhirnya semua urusan tiket dan akomodasi disana diserahkan ke suami (yang mana baru pertama kalinya, terus dia rada kaget gitu, "Babe, kok aku ditelpon Garuda ya, diingetin flight besok? Selama ini aku belum pernah lho ditelpon gitu..". Hastagaa sayaaang, ya iyalah nggak pernah, selama pergi-pergi ini kan yang book apa-apa pasti istrimu ini, ya pasti gw juga keles yang ditelpon, hahaha..

Riweuh pertama soal ASIP, karena Zaf masih ASI exclusive, jadi harus bawa ASIP dan cari cooler bag gede yang rada mumpuni karena kita disana empat hari tiga malem, lumayan lama juga. Untung Garuda Indonesia sangat helpful, dan kita ended up bawa kurang lebih dua setengah liter ASIP beku di cooler bag yang terus di-wrap dan dimasukin bagasi. Selain itu kita juga bawa empat botol ASIP cair ke kabin. All is well lah. Tapi emang sebelumnya suami kontak-kontakan dulu sama staff Garuda Indonesia via email, dan emailnya diprint jaga-jaga kalo ada masalah pas check-in. Alhamdulillah sih ngga ada apa-apa.

Riweuh kedua soal MPASI. Yaaaah, walaupun makanan Zaf ngga netral banget dari gula garam dan kadang-kadang Zaf juga ikut jajan diluar, tapi so far sebagian besar dari makanan Zafran itu saya yang masak, jadi tau lah sebagian besar yang masuk ke tubuh Zaf. Dan saya juga ngga pernah nyoba MPASI instan.. lalala, jadi bingung, masa masak apa gimana yaaa.. In the name of nggak mau riweuh akhirnya kata suami, yaudah! Ngga usah masak! Makanan Zafran beli di jalan aja. Bubur atau roti-rotian gitu aja. Tapi akhirnya beli Heinz yang toples-toplesan gitu sih.. in case Zaf ga mau makan, soalnya terakhir jalan ke Bogor kan appetite Zafran parah banget, sampai emaknya stres, bzzzz. Terus akhirnya nyisip-nyisipin pure buah beku ke cooler bag ASIP karena masih ada space, hehe..

Ngga punya itinerary di Semarang, karena kata suami, "Babe.. ini bukan liburan ya.. ini mandatory visit..", hahaha. Jadi ya literally cuma pergi ke rumah mertua aja, dan untungnya yang awalnya ngeri Zaf ngamuk karena biasanya suka gitu kalo ketemu orang yang dia belum kenal, ternyata nggak! Dia behave banget sepanjang perjalanan, mulai dari ketemu pramugari (flirting!) sampai akhirnya ketemu keluarga di Semarang. Di pesawat juga gitu.. mommy deg-degan abis (I'm scared of death getting on plane, apalagi abis tragedi Air Asia itu, huhuhu..), Zafran seneng banget sama suara bising pas mau take off, dan heboh pas pesawat mulai jalan. Oke. Haha.. Dan alhamdulillah nggak penging juga.

Selama di Semarang juga Zaf makan banyaaaak, menyenangkan deh, akhirnya bisa ngerasain nyuapin Zaf setengah jam selesai! Mudah-mudahan bisa seterusnya gitu ya.. Amin, amin.. Hail to the Heinz lah, haha.. Sempet ngeri, jangan-jangan nanti di rumah dia nggak mau makan masakan mommy lagi setelah ngerasain enaknya makanan kalengan, tapi ngga kok ngga terjadi. Sampai sekarang makannya masih lahap dan kalem.

Nggak banyak foto-foto di Semarang, karena satu, hp rusak.. huhu.. literally item aja gitu layarnya, sedangkan rempong juga kalo tiap foto ngeluarin SGC.. kedua, booook.. capeee ya bok jalan bareng anak bayik yang lagi aktifnya ngerangkak.. Turun tiga kilo apa disana? (or not, karena makannya juga banyak? =p). Kayaknya tiap pagi Zaf bangun duluan daripada emak bapaknya, terus minta turun tempat tidur, terus abis itu ritual ngeliat kaca keluar (atau ngeliatin cermin) sementara kita berdua masih tepar di kasur. Capek! Hahaha, tapi worth it lah setiap detik dari perjalanan ini. Eyangnya nangis pas Zafran pamit pulang (iya Zafran.. kayaknya saya sama suami pulang gapapa deh, yang penting cucunya ditinggal), dan I am feeling like a bad guy here. Hihihihi..

'Til next vacation? Right!

Bawaan orang tuanya ya kira-kira cuma seperempat dari total ini lah.. Sisanya Zafran's!
Mamam nasi cah jamur di Bakmi GM. MSG Galooore...
Pemandangan favorit Zafran
Pemandangan favorit kedua Zafran =D
Pagi-pagi.. dimana orang tuanya masih teler, anak bayik udah minta turun kasur dan langsung cabs ke jendela.
Sky pool di hotel. Nice view, tapi karena di lantai 30.. anginnya kuenceeeng! Sempet ragu ngelarang Zaf turun karena takut masuk angin, tapi akhirnya berenang juga walau cuma sepuluh menit.


Sempet mampir Arto Moro. Yaay!
Pulaaaaang... :)

January 06, 2015

In a Meanwhile...

Baru ngeh setelah punya Zafran, jarang banget posting review tempat-tempat baru ya? Kenyataannya kalau pergi bertiga sama Zafran jarang bisa foto-foto tenang karena anak lagi aktif-aktifnya, sedangkan kalo pergi berdua sama suami jarang juga foto-foto karena saking menikmati kebersamaan berdua (halah!) yang jarang itu. Liburan kemarin ngga kemana-mana juga hiks, karena kebayang aja riweuh dan macetnya di jalan pas liburan panjang dimana semua-mua orang keluar. Mana cuaca mendung terus, mau keluar ngga jadi-jadi terus. Makanya waktu hari Jumat kemarin pagi-pagi udah ada matahari, langsung cabs aja pergi berenang walaupun belum mandi juga. Ngejar matahari!






Ini kali kedua Zafran berenang di kolam renang umum. Kali pertamanya rada-rada gagal gitu deh, karena takut. Haha, makanya rada hopeless juga, tapi dengan niatan jangan sampai Zaf ngga bisa berenang kayak mommy-nya, kita harus kenalkan sedari dini! :D Ngga ada persiapan juga, tau-tau aja berangkat. Ngga punya pelampung juga kita.. makanya selama berenang harus dipegangin. Eh taunya kali kedua ini dia girang ampun-ampunan, sampai udah diangkat juga dia terus-terusan merangkak ke arah kolam renang *pegangin erat-erat*

Zaf berenang selama 20 menitan deh kayaknya.. Abis itu kayaknya cukup exhausted, karena walaupun pagi makannya udah abis, dia minta makan lagi alias nyicip-nyicipin makanan gw dan mas Ro. Inget banget deh jaman dulu selalu wondering kapan pertama kali kita bakal ngebolehin Zaf makan KFC, ternyata belum sebelas bulan aja udah nyicipin yaaa.. (digetok Mamayeah). Hahaha.. cuma nyobain chicken porridge (buburnya aja) sama scrambled egg kok.  Lahap dia ya kalo ada mecin sama garam. :))



MPASI Zaf gimana? Mommy lagi males masak eung dan selalu terintimidasi sama MPASI cantik di Instagram yang diposting mommy-mommy kece itu. Desember kemarin juga like a hell for bankers mommy, makanya masaknya selalu yang simple, bubur sayuran plus protein (ikan, daging, ayam atau tahu). Untunglah belakangan Zaf selera makannya lagi bagus, walaupun masih dikemut tapi seringnya abis. 

So, see you next time! *kecup*

November 27, 2014

Quick Update!

I'd like to update everything about my little kiddo, but been very busy lately. So quick update!

Oktober kemarin Zafran sakit perdana. Emang sih dulu pernah demam dan flu ringan, tapi sehari sembuh sehari sembuh gitu. Nah waktu sakit kemarin, literally dia panas dan malem itu ngga bisa tidur lebih lama dari setengah jam. Abis itu bangun jejeritan. Demamnya naik turun berkisar 38 - 38.5 derajat. Walaupun setiap literatur bilang kalau minimal 3 hari sebelum dibawa ke dokter, hari kedua setelah demam langsung saya bawa ke dokter. Alasannya simple, anaknya ngga bisa tidur! Jadi dengan kejamnya saya minta obat tidur ke DSAnya. Eh, alhamdulillah dikasih obat tidur sehari itu, dia bisa tidur, besoknya demamnya turun daaaaan sehat-sehat sampai sekarang! 

Eh. Ngga sampai sekarang juga sih. Karena kemarin Zafran sakit lagi. Bzzzz... tapi yang ini ngga seheboh kemarin, cuma sedikit diare, jadi stop sayur dan buah, kasih karbohidrat dan protein tinggi aja. Dan pisang sih. Sekarang sih udah haha hehe lagi anaknya, tapi sempet turun berat badannya hiks. Mommy sedih.

Makannya gimana? Tetep susah kalo sama mommynya, tapi kalo sama mbaknya cepeeet! Suami pernah cuti dan ngintip Zaf pas lagi disuapin makannya sama mbaknya, lima belas menit selesai! Alhamdulillah ya... -___-"

MPASI yang baru? Sering-sering dateng ke blognya teh Nessa, soalnya resepnya simple tapi keren-keren, terus kalo ada yang ngga ngerti tinggal whatsapp orangnya dengan pertanyaan-pertanyaan bodong (Ngetim itu gimana ya teh? Sendok makan peres itu apa teh? Bless her.) Alhamdulillah masih suka masakin Zafran walaupun belum canggih, ga kayak yang di HHBF, tapi rasanya makin enak dan tolerable, karena kalo ga abis, mommynya yang suka ngabisin. #eaaaaa

Last, aduh udah jarang banget foto-foto Zafran karena anaknya subhanallah ga mau diem! Jadi kalo difoto pasti blur atau ngebayang. Perlu DSLR apa kita, suami? #kode





Kalo disuruh merangkak pasti nangis. Huh.
BYE!!!!

October 16, 2014

Perks of Being a Mother

Karena saya sedang banyak banget kerjaan, akhirnya bapaknya Zafran dipanggil pulang ke rumah (saya dan suami saat ini long distance) supaya bisa nemenin Zafran tidur (bisa siiih kerja sambil nemenin Zafran, tapi percayalah memandangi bayi tidur menyebabkan kantuk berat) dan saya bisa lembur kerja. Jam tujuh bapaknya sudah di rumah, dan Zafran juga sudah tidur. Akhirnya saya memutuskan untuk tidur dulu dan bangun jam sepuluh malam untuk bekerja seperti yang selalu saya lakukan apabila hendak lembur SEBELUM melahirkan.

Apa yang terjadi..

Jam sepuluh dibangunkan suami.. Zafran masih lelap dan suami sudah tidur. Belum pumping ASI dari jam lima sore. Akhirnya pumping dulu sampai jam 11 kurang seperempat. Beres-beres, masukin ke freezer dulu juga.

Turun ke dapur, aduh banyak sekali botol Zafran yang masih kotor. Akhirnya cuci steril dulu sampai jam setengah 12 malam.

Jam setengah 12 malam masak bubur buat makan Zafran besok. Gampil lah pakai slow cooker, lima belas menit selesai.

Jam 12 kurang 15, siap-siap buka laptop, baru aja laptop nyala, Zafran kebangun terus nangis sedih entah kenapa. Nggak berhasil dipuk-puk dan dibikin tidur sama bapaknya. Akhirnya harus ngelonin anak bayik dulu kurang lebih setengah jam sampai pulas lagi.

Setengah 1 pagi.. baru mulai siap-siap kerja. Damn, flash disk ketinggalan di kantor doooong... Batal kerja, batal kerja, batal kerja..


Well, you can't always get what you want... *kerukupan sama anak bayik akhirnya*

October 13, 2014

Mom's Fatique and Me-Time

Setelah jadi seorang ibu, saya baru menyadari yang namanya kelelahan itu pasti tak terelakan. Sebelum jadi ibu sering sih saya dengar, "Jadi ibu itu capek" atau "Jadi ibu itu harus bangun paling pagi dan tidur paling malam". Atau "Jadi ibu itu kepentingannya ditaruh di peringkat paling bawah".

Setelah jadi ibu, beneran lho saya merasa kondisi saya ngga pernah se-100 % kembali seperti sedia kala. Sempet baca sharing teman-teman yang lainnya dan beberapa ada yang bilang kalau sebenarnya kondisi kita sudah kembali, cuma karena beban physically dan emotionally bertambah, ya kita ngerasa terus capek aja gitu rasanya.

Kalau dibandingkan waktu Zafran newborn, tentunya tingkat kelelahannya sudah sangat berkurang ya. Saya ngga tau apa ini dialami oleh setiap ibu, atau kadarnya berbeda-beda di setiap ibu dan anak, tapi saya merasakan hingga Zafran berusia 3 bulan, saya nggak pernah tidur nyenyak lebih dari dua jam setiap malamnya. I am that tired. Belum lagi agenda nangis Zafran yang rutin dimulai dari jam 5 sore hingga jam 9 malam, ntah kenapa, kolik atau bukan saya nggak tau, yang pasti selama empat jam itu Zafran benar-benar harus digendong terus-terusan. Zafran 8 bulan ini sudah termasuk menyenangkan kok, sudah tidur sepanjang malam, hanya menyusu 2 - 3 kali saja. Tapi tetap saja sih ada suatu saat dimana saya bangun pagi dengan mood yang berantakan karena capek di kantor, pulang malam, masih harus cuci botol, masak MPASI dan pumping ASI. Ada aja lho saat-saat seperti itu. Jatuhnya kesal sama Zaf dan sumbu kesabaran saya yang pendek banget.

Makanya menurut saya seorang ibu itu butuh sekali me-time. Yang nggak belibet bangetlah kalo buat saya, weekend waktu ada suami, suami kasih saya waktu tidur siang dua jam aja saya udah bahagia. Untuk ibu bekerja, secretly saya rasa ke kantor juga merupakan me-time, iya nggak? Me-time berarti saya ibu yang jahat? Saya ngga tau sih kalo soal itu, setiap keluarga punya persepsi masing-masing ya, untunglah keluarga saya memiliki satu visi dengan me-time itu.

Yang pasti sih happy mom happy kid ya! Mudah-mudahan setiap ibu bisa berbahagia dengan caranya masing-masing yah.. :)

MPASI 8 bulan : GMM dan GTM

Waktu pertama kali baca tentang GTM (Gerakan Tutup Mulut) dan GMM (Gerakan Melepeh Makanan) ini nggak kepikiran banget Zafran bakal kayak gini, secara dari enam bulan dia kalo makan anteng-anteng aja sih walo waktunya lama. Eh, ternyata mulai 8 bulan dia suka banget tutup mulut rapat-rapat sambil geleng-geleng kepala. Kalo kita terus paksa-paksa, tangannya bakal naik untuk menepis sendok yang kita sodorkan. Kalau di kasus saya, untungnya hal ini ngga berlaku untuk segala jenis buah. Yang ditepis oleh Zafran cuma makanan pokok berupa nasi lauk pauk aja. Kentang masih mau sedikiiiit. Roti lumayan lah.

Eh, ternyata ketika minggu-minggu penuh siksaan itu lumayan membaik, muncul gigi bawah pertama Zafran. Ternyata mungkin kemarin-kemarin itu Zaf sakit gigi ya, jadi nggak enak makan apa-apa. Ya pantes aja sih, wong orang gede aja kalo lagi sakit gigi males makan kan ya? Pantes kalo lagi teething, freezable teether-nya abis banget digigitin. Terus kalo lagi disodorin botol minuman dingin, digigit-gigit botolnya penuh semangat. Seneng kali ya adem-adem gitu.

Jenis makanan yang baru apa ya? Zafran udah dikasih ayam giling (kadang suka kadang enggak), ikan gindara (baru sekali dan waktu itu suka, mudah-mudahan seterusnya juga suka), yoghurt (suka banget, apalagi kalo dicampur sama buah), agar-agar (waktu buat agar-agar ini Zafran lagi mogok makan berat, jadi gagal deh, harus dicobain lagi nanti), tomat (dibuat puree dicampur bubur ikan, enak deh), mangga harum manis (SUKA! SUKA BANGET! Sampai mangap-mangap terus. :D) dan daging sapi dalam bentuk kaldu (kalo dagingnya sih belum dikasih. Tunggu sembilan bulan kali ya). Udah dikasih keju, unsalted butter dan UHT (sebagai campuran masakan) juga. Oh, sama kuning telur. Dari ayam apa aja yang ada, hehe.. males abisnya cari ayam kampung. Insya Allah gapapa kok, so far dikasih kuning telurnya cuma seminggu sekali, soalnya pernah baca kolesterolnya cukup tinggi.

Sekarang Zaf udah ngga pernah disaring juga makanannya. Alhamdulillah berkurang satu kerempongan. Tutup mulut udah jarang, cuma masalah ngemutnya itu lho. Melepeh sih so far jarang banget. Ada yang bilang kalo diemut disuapin air putih aja, eeeeh.. hasilnya air putihnya ikut diemut lho! Beneran! Bzzzz..

Tantangan selanjutnya adalah pingin buat masakan yang beraneka ragam! Saya akuin ini susah banget buat saya yang bekerja, karena ngga ada waktunya kadang-kadang. Kadang bisa bela-belain bangun lebih pagi untuk bikin yang rada macem-macem, tapi kalo lagi sibuk jatuhnya bubur lagi dan bubur lagi. Alternatifnya sih akhirnya abis-abisan aja pas weekend, bikin menu yang beda-beda dan menurut saya rada aneh-aneh. Banyak nyontek ke blognya teh Nessa, dan banyak nanya pertanyaan-pertanyaan bodoh juga, untung orangnya sabar banget (mudah-mudahan dibalas sama Allah SWT, amin YRA). In the end, mungkin saya ngga bisa sehebat teh Nessa atau Astri Nugraha, but I surely do my best for my son. Zafraaaan, tunggu mamah pulang ya sayaaang :-*

September 22, 2014

Family Trip : Kuntum Farmfield

Yeeay.. akhirnya Zafran pecah telor, bisa trip keluar kota! Akhirnya dengan segala kegundahan dan kerempongannya (saya ceritain di posting terpisah deh), akhirnya bisa ajak Zafran jalan-jalan juga. Kali ini kita mau jalan-jalan ke Bogor. Iyaaa, sedeket itu, tapi menurut saya udah rempong ajah kayak pindahan. Hehee.. anyway, trip ini ngga pake itinerary (biasanya juga kan ngga bikin kaliii.. haha) sekemananya kaki melangkah dan segimananya mood anak bayik aja sih. Ide awalnya staycation di hotel aja, leyeh-leyeh di seprai linen sama ngajakin Zafran berenang. Tapi keingetan pernah baca tentang Kuntum Nurseries/Farmfield di salah satu website/blog dan karena ternyata lokasinya ngga terlalu jauh, makanya kita memutuskan untuk kesana aja.

Untuk lokasi, Kuntum ini terletak di Tajur. Saya kira lokasinya jauh gitu, masuk ke dalam karena kan peternakan/perkebunan yang kayaknya luas, eh ternyata ngga lho.. dari Ciawi cukup deket. Waktu kesana sih udah mempertimbangkan usia Zafran yang kayaknya masih cukup dini buat dikenalkan dengan hewan-hewan, tapi yasutralah, nanti kalo misalnya bagus bisa datang lagi kesini kan.

Waktu kita datang kesini, suasananya rame banget lho! Parkiran penuuuuh, bahkan ada bis rombongan mana dari TK/Playgroup mana. Sempet takut uyel-uyelan di dalam, tapi alhamdulillah enggak, tempatnya luas.



Lobinya kece yaaa.. Kayak dimana gitu. Di lobi ini juga ada terapi ikan yang bisa pijit-pijit kaki.


Harga masuk Kuntum seorang 25.000 rupiah, untuk anak dibawah 2 tahun masih gratis. Bisa apa aja di Kuntum? Yang pertama, buat ibuk-ibuknya bisa petik sayuran organik! Hehe, kalau saya sih waktu itu ngga tertarik. Nanti sayurannya bisa ditimbang dan dibawa pulang. Harganya masih reasonable kok, sama seperti sayuran organik di supermarket. Untuk bapak-bapaknya ada pemancingan juga, banyak liat bapak-bapak berseliweran bawa cooler box yang segede-gede gaban.


Bisa petik-petik disini.
Kalau buat anak-anak, kayaknya heaven ya disini. Bisa lari-lari karena tempatnya luas. Bisa kasih makan sapi dan kelinci, kasih mimik anak kambing, liat ikan, bebek dan berbagai macam unggas. Untuk pakan hewannya tersedia dan harganya juga ngga terlalu mahal kok.


Ini pakan-pakan yang dijual itu.
Kelinciii.. Kelinci disana pada tergelepar gitu deh, gw kira pada kekenyangan dikasih makan terus, hehe..
Waktu saya datang juga ada rombongan TK lagi maen tangkap-tangkapan ikan. Seru banget kayaknya kalo anaknya udah seumuran mereka. Di Kuntum juga banyak tempat-tempat ngiuhan ala gazebo, jadi kalo capek bisa duduk-duduk manis.



Tangkap ikan :)
Verdictnya... Zafran takut sapi! Dan kambing! Segala mamalia berkaki empat. Nangis dia, haha,, tapi emang pas datang sapinya lagi moo moo heboh sih. Cuma kan anak kambing cute bingit tuh, Zaf yakin takut? Zzzz.. Tapi kalau segala unggas dia doyan. Bebek, ayam, burung.. betah amat ngeliatinnya.






Nangis denger moo-nya sapi yang heboh :))
Di luar sepanjang tempat parkir juga ada beberapa kios makanan, saya dan keluarga makan siang disana. Tempatnya teduh, nyaman walau ngga begitu besar. Harganya juga standar, ngga terlalu mahal dan rasanya enak, saya makan siang berdua suami habis sekitar 70.000 rupiah. Fun fact: Kalau makan sama anak bayik itu susah ya foto-foto makanan, ngacak soalnya doski, boro-boro ngeluarin kamera dah, beres-beresin botol sambel sama kecap aja biar ngga dibanting-banting sama Zafran.

Intinya, mau deh kembali kesini lagi.. mungkin kalo Zafran udah setahun atau satu setengah tahun? Mudah-mudahan tempatnya masih ada, masih bersih dan apa-apanya masih terjangkau ya.. :)

Kuntum Nurseries
Alamat
Jl. Raya Tajur  No. 291  Bogor
Jam Buka
Hari      :     Senin – Minggu
Jam      :     08.00 – 18.00 WIB
Telepon 
0251 – 8244725, 8356752
Fax 
0251 – 8243148
Contact Person
Ibu Lily Bacas (087770015937)
Ibu Kennita (0816 888 541)
Email
Atau kunjungi kami di :
www.facebook.com/kuntum.farmfield

September 15, 2014

Confession of a Mom

Jadi... waktu saya hamil, saya menghadapi beberapa kengerian ketika membayangkan harus menjadi seorang ibu. Satu, saya nggak suka anak kecil. Duh, nggak pernah deh saya ber-uh oh kagum kalo liat anak bayi atau anak kecil yang katanya menggemaskan itu. Di mata saya, anak kecil itu ya menyulitkan. Hihihi..

Kedua, saya itu orangnya perfeksionis dan control freak. Dan kompetitif. Kalau melihat betapa banyak teori yang ada di pasaran, baik googling dari beberapa reliable source, sharing sama beberapa teman atau dari DSA, rasanya pingin meraup dan menerapkan semuanya. Padahal tahu nanti akhirnya pusing sendiri dan malah stress jadinya.

Ketiga, saya nggak bisa masak. Bukan nggak bisa basa basi yah, tapi saya benar-benar nggak bisa hingga nggak bisa mengupas buah dan nggak tahu seperti apa rupanya daun seledri itu. Duh, walaupun banyak yang bilang itu bukan keharusan, tetapi melihat poin kedua diatas, saya itu sangat control freak sehingga ingin tahu semua asupan makanan dan minuman untuk anak saya. Kompetitif sehingga berpikir kalau ibu-ibu lain bisa, saya juga tentunya bisa dong!

How a child could change everything! Setelah punya anak, perlahan saya mulai memiliki motherhood feeling (which don't come easily!), dan mulai merasa kalau anak bayi dan anak-anak kecil itu lucu dan menggemasakan (walau tidak merubah pandangan saya kalau mereka itu sangat menyulitkan, hahaha). Saya sudah bisa mengurangi sifat perfeksionis saya, dengan lebih mengedepankan insting dalam mengasuh Zafran, karena saya percaya insting ibu itu diatas segalanya deh, karena segala yang ibu lakukan itu semua demi kebaikan anaknya. Untuk yang ketiga, saya tetap ngga bisa masak. Haha, percayalah, masuk dapur itu adalah hal yang paling saya hindari! Tapi demi tahu persis apa yang masuk ke perutnya Zafran akhirnya saya berjibaku masuk dapur. Untung karena adanya teknologi, sekarang saya bisa memakai slow cooker untuk membuat makanan untuk Zafran sehari-hari dan tidak mengganggu kegiatan saya sebagai ibu bekerja. 

Selain itu saya juga memakai metode frozen food untuk menyiapkan sayur dan buah untuk Zafran. Alhamdulillah hal ini sangat membantu saya untuk menyiapkan makanan untuk Zafran. Capek sih setiap weekend bukannya istirahat malahan berkutat di dapur mengukus, menyaring, dan mem-blender semua bahan makanan Zaf. Atau bangun setiap hari jam empat pagi untuk menyaring buburnya Zafran. Tapi kalau saya baca dari milis atau forum atau cerita-cerita di parenting website, perjuangan saya belum ada apa-apanya ah dibanding ibu-ibu bekerja lain. Saya tinggal di kota kecil dimana saya bisa berangkat kerja jam setengah tujuh dari rumah. Bandingkan dengan ibu di Jakarta yang bisa berangkat dari rumahnya jam lima atau jam enam. Saya sempat baca ada yang bangun jam dua pagi setiap hari demi membuatkan makanan untuk anaknya. Wohooo.. keren sekali!

In the end, kalau kata ibu saya, segala sesuatunya dinikmati saya. Toh saat-saat ini juga pasti akan berlalu, dan suatu saat pasti bakal kangen segala kesibukan ini? Really? Ya kita liat aja nanti.. :)


Dadah dari Zafran! :)