Pages

Showing posts with label film. Show all posts
Showing posts with label film. Show all posts

April 01, 2013

[MOVIE REVIEW] The Host

Walaupun saya suka ngenye-in Twilight Saga The Movie, tapi tetep penasaran dong ketika The Host-nya Stephenie Meyer dibuat film? Bukannya apa-apa sih, I found the book was entertaining, dibanding si Twilight itu sendiri. Apalagi saya penasaran gimana mereka menggambarkan Melanie dan Wanda yang hidup dalam satu tubuh?


Dari awal saya udah menekan ekspetasi saya serendah-rendahnya. Tapi mungkin gara-gara itu ya, filmnya jadi terasa menghibur sekali. Tentu aja banyak adegan-adegan yang mengundang komentar sarkas, tapi selama ada si cakep Jared (Max Irons), who cares lah ya?

sluuuurp, nyahahahhaa.. :D
Jadi tersebutlah bumi dalam keadaan damai, rukun, teratur dan bahagia. Bahagia? Oh ternyata enggak, bumi telah diinvasi oleh makhluk luar angkasa (yang menurut saya mirip jellyfish yang bersinar-sinar), yang membutuhkan semacam inang untuk hidup. Makhluk ini yang disebut-sebut sebagai "soul" masuk kedalam tubuh manusia, dan kemudian menggunakan tubuh manusia itu untuk hidup. Sebelum menguasai bumi, makhluk-makhluk ini telah berkelana dari satu planet ke planet lainnya untuk menemukan inang yang cocok.

Lalu bagaimana dengan manusia? Terlepas dari hampir seluruh manusia sudah dikuasai, ada beberapa manusia yang berusaha mempertahankan jati dirinya. Melanie Stryder adalah salah satunya. Bersama adiknya, Jamie Stryder, dia mempertahankan hidupnya, lari dari Seeker yang berusaha mencari sisa-sisa manusia yang masih ada untuk digunakan sebagai inang dari "soul" yang akan datang ke bumi.

Di perjalanannya, Melanie bertemu dengan Jared, yang sudah tidak bertemu manusia selama berbulan-bulan. Singkat cerita, mereka jadian lah ya, apalagi katanya tanggung jawab meneruskan generasi manusia ada di tangan mereka berdua :p Nah, disinilah dimulai adegan-adegan kayak film India. Lari-lari di hujan, kejar-kejaran. Poor Jamie, he always be a background while his sister and Jared take main stage.


Jamie melongo sendirian di belakang, sementara kakak dan calon kakak iparnya berpelukan mesra.
Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Melanie ini akhirnya tertangkap juga, sementara Jared dan Jamie berhasil kabur. Tubuh Melanie digunakan untuk "soul" bernama Wanderer. Nah disinilah konflik terjadi karena ternyata Melanie nggak sepenuhnya mati. Dia mencoba melawan Wanderer yang berusaha untuk membantu Seeker dalam mencari lokasi Jared dan kumpulan manusia lainnya.Wanderer yang galau ini akhirnya setuju untuk mencari persembunyian paman Melanie beserta kumpulan manusia yang selamat diantara gunung di tengah-tengah gurun pasir yang luas.

Singkat cerita lagi, Melanie/Wanderer ditemukan oleh paman Melanie (Jeb) dan dibawa ke tempat persembunyian mereka di dalam gua-gua gunung. Awalnya Wanderer akan dibunuh, namun Jeb nggak tega karena Melanie merupakan keponakannya sendiri. Nah disinilah Wanderer ketemu sama si Ian yang menurut saya cakepnya kalah sama Jared, cuma didukung penuh sama suami saya. He's better than Jared, my husband said. Oh okelah.


Karena si Ian ini baik sama Melanie/Wanderer, nggak disangka, Wanderer (yang sekarang dipanggil Wanda) jatuh cinta dunk sama Ian. Cinta segiempat pun terjadi antara Jared-Melanie-Ian-Wanda, dimana everything become complicated karena kan Melanie dan Wanda ada di dalam satu tubuh. Pusing nggak lo? Yang katempuhan seneng sih Saoirse Ronan, abis dia dapet kissing scene sama Max Irons, semenit kemudian dia ciuman sama si Jake Abel. And she get paid. Lucky biatch. :)))


Yang bikin seru lagi, pemilihan villain yang super nyebelin tapi cantiknya nggak sante. Miss Diane Kruger is very hot and dedicated villain.


Saoirse Ronan is perfection. I love her. Awaaaas aja kalo ada yang nyamain dia sama Bella-nya Kristen Stewart. Jauh boook.


Jadi intinya? Nonton aja lah dan jangan banyak mikir. Really entertaining popcorn movie. Endingnya rada ketebak sih, tapi eh apa karena saya udah baca bukunya ya? :p 
Maybe I'll give 3.5 of 5 stars, because it made me laugh so often. Kalo yang ragu-ragu, bisa cek trailernya dulu dibawah ini.


March 13, 2013

[MOVIE REVIEW] Zero Dark Thirty

Holiday means good food and good movie!

Selasa kemarin libur karena Hari Raya Nyepi, prove that it's really good to have religion diversity in our country, see? Liburan berarti makan banyaaaak dan nonton film dan series yang banyak! Good day yesterday, pagi-pagi dimulai dengan masak sarapan buat mama dan suami. What, masaaak? Iyeeeh, nggak canggih kayak chef-chef atau ibuk-ibuk yang suka posting resep di blog itu kok, kemaren cuma bikin roti gulung goreng yang resepnya diambil dari sini. Kemarin sempet buat ini cuma beef pastraminya saya ganti kornet, dan saya tambahi buncis dan wortel dicincang, dan enak! Makanya kemarin pagi mau saya ulang lagi keberhasilan saya, tapi.. errrr, kornet yang isinya masih setengah kaleng di kulkas ilang duunk. Akhirnya resepnya diimprovisasi jadi manis-manis, rotinya diolesi mentega, dikasi coklat cair dan keju yang banyak, terus selanjutnya sih langkah-langkahnya sama, dan alhamdulillah Mamah sama suami suka, jadinya abis deh sebelum difoto T___T" bread crumbs itu emang ajaib, segala yang dikasih itu enak kayaknya, hehehe..

Udah, udah, kan ceritanya mau review film, kenapa jadi ngomongin roti ini *glek,lapar* Jadi, setelah sekian lama ngidam nonton Zero Dark Thirty, akhirnya kemarin berhasil juga nonton film ini. Penasaran karena film ini merupakan dramatisasi dari perburuan Osama Bin Laden, directed by the one and only Kathryn Bigelow, dan banyak banget dapet nominasi waktu Golden Globe dan Oscar kemarin.


Lima belas menit pertama dari film ini aja, duh, hati rasanya mencelos banget liat interogasi yang dilakukan CIA ke salah satu tahanan yang dipercayai pernah kontak langsung dengan OBL. Maklum OBL dikenal nggak menggunakan telepon sejak tahun 2008 dan sejak itu dia menggunakan kurir-kurir terpercaya untuk menyampaikan pesannya. Interogasi yang penuh penyiksaan ini yang konon menjadi salah satu aspek penuh kontroversi dari film ini, karena film ini dianggap pro-torture. Jujur saja saya juga nggak tega liat tawanan diperlakukan seperti binatang demi mendapatkan sepotong informasi. Harusnya buat mesin kayak di Person of Interest aja ya, langsung dapat nama tanpa harus menyiksa tahanan.

Di scene-scene awal ini kita diperkenalkan kepada salah satu agen muda CIA bernama Maya, yang ceritanya baru ditugaskan di Pakistan. Si Maya ini direkrut langsung dari high school, dan selama dia jadi agen CIA, dia memfokuskan diri ke intelejen yang berkaitan dengan OBL. Sejak tahun 2003-2011, dia nggak pernah ngerjain hal ini, just OBL.


Karena udah duluan nonton Homeland, mau nggak mau sosok Maya ini ngingetin saya ke Carrie di serial tv Homeland. Sama-sama agen CIA, terobsesi sama sosok penting dalam terorisme (Carrie is deeply obsessed by Abu Nazir), teorinya nggak dipercaya sama orang-orang, dan tetep keukeuh mempertahankan pendapatnya. Sebelas dua belas lah mereka.

Carrie Mathison - Homeland
Maya ini punya teori tentang salah satu orang kepercayaan OBL, kurir pribadinya, yang namanya sering disebut di berbagai interogasi dengan beberapa tahanan. Cuma sampai saat ini belum ada yang tahu nama asli kurir tersebut, yang biasa dikenal dengan nama Abu Ahmed Al Kuwaiti. Maya percaya kalo bisa nemuin si Abu Ahmed, dia bakal mudah menemukan lokasi OBL. Dimulailah pencarian Abu Ahmed yang tentunya nggak gampang ini, sedikit yang percaya sama teorinya Maya, dan berpikir kalo dia mengada-ngada. Sampai di satu saat, ada analis yang mengemukakan teori bahwa nama asli Abu Ahmed adalah Ibrahim Sayeed. Dan tahu nggak harga yang harus dibayar CIA untuk mendapatkan nomor telepon ibu dari Ibrahim Sayeed? CIA harus menyuap seorang Pangeran Kuwait dengan sebuah Lamborgini! Wow.


Karena cerita ini merupakan dramatisasi dari cerita aslinya, tentunya semua orang udah tau dong endingnya gimana, dan apa yang terjadi sama OBL selanjutnya. Tapi walaupun udah tau endingnya, tetep aja film ini menghadirkan suasana suspense yang mencekam dari awal sampai akhir. Walaupun durasi film mencapai 2.5 jam lebih, akan tetapi saya nggak ngerasa bosan sedikitpun menonton film ini.

Untuk Zero Dark Thirty... 4 of 5 stars. Very recommended!

PS. Setelah nonton film ini, keingetan sama salah satu episode terbriliannya The Newsroom, yang judulnya 5/1. Cocok juga abis nonton Zero Dark Thirty, langsung disambung sama episode The Newsroom yang itu. :p

March 04, 2013

[MOVIE REVIEW] Silver Linings Playbook


Weekend kemarin akhirnya sempet nonton Silver Linings Playbook! Penasaran banget sejak film ini banyak diperbincangkan di twitter, dan banyak yang terkesan sama film ini. Terus tambah penasaran karena Jennifer Lawrence berhasil memenangkan Best Actress di Academy Awards karena perannya di film ini. Jujur aja waktu tahu kalo J-Law dipasangkan dengan Bradley Cooper disini, saya rada sangsi, abisnya selain perbedaan umur yang cukup jauh, saya terbiasa menonton J-Law menjadi Katniss, dan kayaknya sik nggak bakal ada chemistry-chemistynya sama Bradley Cooper.

Eh salah lho!

Ternyata chemistrynya dibangun dengan baik, pelan-pelan sih, cuma pasti. Di awal cerita kita diperkenalkan dengan tokoh Pat Solitano, Jr (Bradley Cooper). Pat Jr baru dibebaskan dari semacam pusat rehabilitasi untuk pengidap penyakit jiwa karena jaminan dari ibunya terhadap pengadilan. Usut punya usut ternyata Pat Jr mengidap bipolar disorder (nantinya ketauan juga kayaknya bapaknya mengidap penyakit jiwa, OCD or something, saya nggak terlalu menangkap) dan ketika dia menangkap basah istrinya, Nikki, selingkuh dengan  rekan kerja mereka, seorang guru sejarah di tempat mereka berdua mengajar, Pat naik darah dan memukuli guru sejarah tersebut.

Setelah delapan bulan di rehabilitasi, ibu Pat Jr menjamin Pat ke pengadilan agar Pat Jr bisa keluar dari rehab. Setelah keluar Pat Jr berusaha untuk kembali ke Nikki, padahal dia memiliki restraining order sehingga tidak boleh berhubungan dengan Nikki. Disini mulai terlihat bagaimana bipolar mempengaruhi perilaku Pat Jr, dan juga mempengaruhi keluarganya. Saya salut sekali dengan ibu Pat yang sabar luar biasa menghadapi anak dan suaminya yang bisa dibilang sama-sama gila dan emosian.

Lalu, mana J-Law yang ditunggu-tunggu? Suatu hari Pat Jr diundang ke makan malam yang diselenggarakan oleh teman dekatnya, Danny dan Veronica Maxwell (hello there, Julia Stiles!). Ternyata pada makan malam itu, Tiffanny (J-Law) adik dari Veronica ikut diundang.

Mulailah percakapan-percakapan lucu antara Pat Jr dan Tiffany. Chemistrynya? Luar biasa. J-Law sama sekali tidak menunjukkan ke-Katniss-annya di film ini. Skrip yang lucu pun tak berhenti membuat saya tertawa terbahak-bahak sepanjang film.
Tiffany: Hey!  
Pat: What the fuck? I'm married!  
Tiffany: So am I! 
Pat: What the fuck are you doing, your husband's dead!  
Tiffany: Where's your wife?  
Pat: You're crazy!  
Tiffany: I'm not the one who just got out of that hospital in Baltimore.  
Pat: And I'm not the big slut!... I'm sorry... I'm sorry... I'm sorry.  
Tiffany: I was a big slut, but I'm not any more. There's always going to be a part of me that's sloppy and dirty, but I like that. With all the other parts of myself. Can you say the same about yourself fucker? Can you forgive? Are you any good at that? 
Jadi akhirnya gimana? Bradley Cooper berhasil memainkan seorang pengidap bipolar yang berusaha untuk memenangkan kembali hati istrinya, termaksud dengan membaca semua buku yang masuk silabus istrinya, dan berdansa dengan Tiffany agar Tiffany mau menyampaikan surat darinya kepada Nikki. Lalu bagaimana dengan Tiffany yang tampaknya mulai tertarik dengan Pat Jr?

Sebagai penyuka happy ending, saya browsing sebentar endingnya (hahaha, it's cheating, but what can I say? I can whine forever when I watch some sad ending story. Dan baru inget kalo Pat Jr juga nggak suka buku dengan ending yang sedih). Syukurlah film ini berakhir dengan happy ending seperti film-film drama romantis pada umumnya. Tapi bisa dibilang, the result doesn't matter. The process matters. A lot. Disini juga bisa liat Bradley Cooper dan J-Law nge-dance! Seru sekali!

Jadi, untuk film ini, 4 dari 5 bintang. Suka-suka pemainnya, plotnya, skripnya, bahkan soundtracknya. Bisa liat Robert de Niro dan Chris Tucker juga disini! :)

December 27, 2012

[MOVIE REVIEW] The Hobbit: An Unexpected Journey


The last one! For this weekend. :)

Been waiting for this one since last year. How can't I? Setelah tergila-gila dengan trilogi Lord of the Ring (both books and movies), saya menunggu hasil karya berikutnya dari Peter Jackson. Sengaja untuk tidak mengulang buku The Hobbitnya, karena banyak baca review penonton yang nggak puas sama filmnya karena terlalu memanjang-manjangkan bukunya. Sengaja juga film ini ada di urutan paling akhir acara tonton-menonton minggu ini karena katanya bikin ngantuk. Saya sudah sengaja beli cemilan banyak buat ngusir kengantukan yang katanya akan datang melanda.

Eh, turns out rame banget! Ngga ada tuh saya ngantuk sepanjang film. 3D-nya juga bikin filmnya semakin exciting. Seru seru seru.

Ceritanya dimulai dari 60 tahun sebelum pesta ulang tahun Bilbo Baggins dimana Bilbo menghilang yang ada di film "Fellowships of the Ring" itu lho. Pada suatu hari, Bilbo kedatangan 12 tamu kurcaci dan seorang ahli sihir bernama Gandalf. Ternyata rombongan kurcaci ini sedang mencari seorang pencuri untuk membantu mereka merebut kembali kejayaan negeri mereka, Erebor, yang dahulu kala direbut oleh seorang naga rakus bernama Smaug.

Tentu saja Bilbo menolak! Dia bukan pencuri. Akan tetapi Gandalf terus memaksa dengan menceritakan cerita tentang nenek moyang Bilbo yang suka berpetualang. Bilbo masih ragu apalagi ketika membaca kontrak yang dibuat oleh raja kurcaci, Thorin, dimana resiko perjalanan tidak ditanggung. Itu berarti Bilbo belum tentu selamat dari perjalanan. 

Kalau di novelnya sih, penolakan Bilbo nggak selebay di film. Cuma mungkin ini salah satu usaha dari Peter Jackson yang menginginkan satu buku menjadi trilogi. Ada beberapa hal yang tidak ada di buku tapi diceritakan panjang lebar di film. Seperti cerita tentang Penyihir Coklat, Radagast, yang awalnya tidak ada di buku, akan tetapi diceritakan cukup lama di film. Terus hingga tengah buku saya belum menemukan tentang Necromancer, sementara di film sudah diceritakan di beberapa scene. Azog the Defiler juga banyak muncul, terutama adegan pengejaran oleh Warg dan orc-orc lainnya, dimana Radagast mengalihkan perhatian mereka dengan menaiki kelinci-kelincinya yang terkenal cepatnya, sedangkan kalau di buku Azog hanya disebutkan sekilas, dan kelompok kurcaci, Bilbo dan Gandalf tiba di Rivendell tanpa kurang satu apapun.

Salah satu scene yang memorable adalah pertemuan antara Bilbo dan Gollum. Saya deg-degan sekali ketika mereka berdua bermain teka-teki, karena siapa yang tahu apa yang ada di benak Gollum yang licik itu? Walaupun akhirnya Bilbo berhasil melarikan diri karena cincin yang ditemukan di gua Gollum (yang akan memegang peranan penting nantinya di trilogi LOTR), saya penasaran sekali apakah di dua film The Hobbit kedepan akan ada scene dengan Gollum kembali?

Secara cinematography, Peter Jackson berhasil membawakan kembali Middle-earth dan Rivendell. Love every details he brought. Air terjun di Rivendell, ruangan di setiap lubang Hobbit bahkan lebih detail dibandingkan di Lord of The Ring. Gua-gua penuh emas di Erebor. Make up untuk pemeran yang ada di film itu juga masih nomor satu, Elrond digambarkan lebih muda dibanding di LOTR (hello, Hugo Weaving!). Saruman juga masih menjadi Penyihir Putih, dan masih berada di good side.

For me, The Hobbit. 4 of 5. I love watching it in big screen, and 3D definitely won't hurt. Buat yang belum nonton LOTR juga nggak papa nonton film ini, karena film ini merupakan prekuel, tetapi kalo sudah nonton, pasti bakal lebih seru karena ketemu karakter yang udah dikangenin selama beberapa tahun ini. :)

December 26, 2012

[MOVIE REVIEW] 5 cm.


Hello there! Kembali lagi ke review film ketiga saya di weekend ini (yap, setelah ini masih ada satu lagi, jadi menggenapi empat, hehe)
Saya bukan brand new fansnya dari 5 cm. Pertama kali saya baca buku ini kalau nggak salah sekitar tahun 2005, ketika buku ini masih bersampul hitam. Waktu itu masih belum banyak yang tahu soal buku ini, dan saya termasuk yang mengenalkan buku ini ke teman-teman saya di kampus, termasuk anggota-anggota Mapala itu. Saya cinta banget sama buku ini, suka sama quote-quote lucu nan memotivasi meskipun sedikit aneh dan preachy, karakternya yang unik nan ngangenin (buktinya setelah saya selesai baca, saya bengong, ngerasa nggak rela kalau bukunya udahan), dan petualangannya yang amazing buat saya yang waktu itu nggak suka sama sekali jalan-jalan. Sejak saat itu saya selalu membayangkan betapa hebatnya kalau misalnya buku ini bisa sukses dibuat film.

Eh, siapa sangka tujuh tahun kemudian mimpi saya jadi kenyataan?

Ceritanya mengisahkan tentang lima orang sahabat, Zafran, Arial, Genta, Ian dan Riana. Mereka sudah bersahabat dari sepuluh tahun yang lalu, dan selalu menghabiskan weekend bersama-sama. Tidak pernah terlewat. Seiring kisah berjalan, ternyata Zafran menaruh hati kepada Arinda, adiknya Arial (kalau di buku sih diceritakan Arinda itu saudara kembarnya Arial, cuma kurang jelas juga apakah di film Arinda merupakan adik kembar Arial, atau hanya adik saja, karena kalau kembar kok antara Pevita Pearce dan Denny Sumargo-nya kurang ada kemiripan ya?), dan ternyata diantara mereka berlima ada yang taksir-taksiran. Setelah ketemuan tiap minggu, beberapa diantara mereka merasakan kebosanan dengan pertemanan mereka. Akhirnya mereka memutuskan untuk break sejenak dari persahabatan mereka selama tiga bulan, dengan catatan no meeting, no text, no call, no communication at all.

Dan setelah tiga bulan itu berlalu, mereka berkumpul kembali dengan kejutan dari Genta. Acara pendakian ke Mahameru! Wah waktu itu saya merasa terkagum-kagum, secara mereka semua pendaki pemula dengan target yang keren banget, mendaki puncak tertinggi di Pulau Jawa! Well, nggak ada yang nggak mungkin dengan prinsip 5 cm itu bukan?

Secara keseluruhan filmnya termasuk menghibur, dan adaptasi yang bagus dari bukunya. Penggambaran tokohnya sesuai (kecuali kembaran Arinda-Arial), Secret Gardennya keren naudzubillah, apalagi Mahamerunya. Emang bener kata orang-orang, kalo film ini too preachy, sering banget adegan bagus dinodai (ceile, noda) sama kata-kata mutiara yang keluar di saat yang nggak tepat dan terdengar lebay. Quote yang dibaca caem banget di buku, waktu diucapkan bersama-sama, kok kedengerannya kayak Power Ranger ya? hahaha.. Saya paling suka quote yang ini lho kalo di buku.
Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter mengambang di depan kening kamu. Dan… sehabis itu yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdoa..

Nah di film ini disebutkan satu-satu sama karakter yang ada, kok jadinya aneh ya? Terus pas mereka akhirnya berhasil mencapai puncak, dan saya lagi merinding-rindingnya, tahu-tahu mereka dengan kocaknya bilang "Saya (sebutkan nama) mencintai kalian semua! Dan mencintai Indonesia!". Terdengar lebay sih, tapi mungkin saya aja ini mah, hehe..

Yang aneh satu lagi, ada salah satu karakter yang membatalkan kuliah di Manchester karena cinta Indonesia. Err, sounds absurd, isn't it?

Apapun itu, film ini salah satu film Indonesia yang layak ditonton. Saya suka, suka soundtracknya yang diisi oleh Nidji, lagunya enak-enak dan suaranya Giring Nidji yang oke banget, ada falsetto yang keren di scene-scene tertentu yang pas.

5 cm. 3 of 5.

[MOVIE REVIEW] Habibie & Ainun


Saya lupa pertama kali saya nonton trailer film ini dimana, yang saya ingat waktu itu saya sudah berkaca-kaca hanya dengan menonton trailernya saja. Kesampaian juga nonton film ini, setelah puas nonton Life of Pi, masih di Botani Square XXI lokasinya.

Saya belum pernah baca bukunya, entah kenapa, padahal berulang kali saya niatkan untuk membeli dan membaca buku ini. Akhirnya hari demi hari berlalu, dan saya pun lupa. Kemarin baru ngeh kalau belum pernah baca bukunya, tapi apapun yang terjadi maju terus pantang mundurlah. Apalagi ada Reza Rahadian, yang kalau diliat dari trailernya, cukup berhasil menghidupkan sosok Pak Habibie baik dari gaya bicara maupun tingkah lakunya (walaupun Reza sepertinya terlalu tinggi untuk memerankan Pak Habibie ya? :p). Kalau dari sosok alm. Ibu Ainun sendiri, saya tidak berani berkomentar banyak, karena saya tidak banyak melihat footage dari almarhum, jadi saya tidak bisa memberikan penilaian apakah BCL sudah pas dalam memerankan ybs. Yang saya tahu, chemistry antar mereka berdua cukup tajam, walaupun masih belum se-oke chemistry Reza-Acha di Test Pack (tetep ya, walaupun menurut saya film yang ini lebih gloomy dibandingkan Test Pack yang lebih cheerful, sehingga mungkin lho bisa meng-eksplor chemistry antara pemeran utamanya).

Setelah baca artikel ini, lebih tertariklah saya untuk menonton, dan alhamdulilah saya suka sekali dengan filmnya. Filmnya bercerita tentang kisah hidup Pak Habibie dan Ibu Ainun, dari pertama mereka berada di satu sekolah menengah, berpisah, kemudian bertemu lagi setelah Habibie lulus kuliah di Jerman, dan Ainun telah menjadi dokter. Singkat cerita mereka menikah, kemudian menghadapi hidup penuh cobaan di Jerman. Film ini juga menceritakan ketika Habibie menjabat menjadi Menristek, penerbangan pertama N-250 (saya lupa, tapi suami masih ingat setiap detiknya ketika dia menonton penerbangan ini ditayangkan di TV. Saya merinding gila liat cuplikannya di film ini. Wahai Indonesiaku yang perkasa, kenapa sekarang jadi seperti ini? Duh Gusti..), dan pemerintahan singkat Pak Habibie setelah Pak Harto dipaksa lengser.

Saya suka sekali dengan keterkaitan antara pekerjaan Pak Habibie dengan kehidupan pribadinya. Berulang kali saya membaca di timeline, kalo harus siap-siap tissue kalo nonton film ini, akan tetapi saya tidak menangis hingga scene yang terakhir. Very last scene. Oh my God, perlu spoilerkah? Semua orang tahu akhir cerita ini, tetapi nggak ada yang lebih mengharukan dibandingkan melihat Pak Habibie asli (bukan Reza) didorong menggunakan kursi roda pada saat melayat makam istrinya, dan mencium nisan istrinya. 
T__T

Bagi suami saya, scene yang paling mengharukan adalah ketika Pak Habibie dan Ibu Ainun sedang berada di hanggar, memandangi pesawat yang dulu dibuat oleh Pak Habibie, dan beliau menyadari begitu banyak waktu bersama keluarga yang beliau korbankan untuk mewujudkan mimpinya, membuat pesawat untuk menghubungkan 17.000 pulau di Indonesia.

Over all saya suka sekali, mengharukan (dan menurut saya film yang membuat penontonnya berhasil meneteskan air mata terus-terusan sama bagusnya dengan film yang memiliki twisted plot di bagian endingnya). Cuma ada beberapa product placement yang menganggu dan bikin mulut nggak tahan berkomentar, "Serius lo, ini udah ada di tahun segitu?"

Habibie & Ainun. 3.5 of 5. Watching in DVD is okay.

[MOVIE REVIEW] Life of Pi


Setelah sebulan lewat dari tanggal perdana penayangannya, dan hampir semua bioskop sudah menurunkan film ini dari studionya, secara susah payah saya mencari bioskop mana yang masih menayangkan film ini. Akhirnya hari Minggu kemarin bersama suami, saya pergi ke Botani Square, sekaligus berniat untuk menonton film "Habibie & Ainun" (reviewnya di posting berikutnya ya.)

Ngomong-ngomong tentang film ini, jadi inget bukunya yang masih tergeletak manis di lemari, minta dibaca. Bukan berarti saya belum pernah baca, tapi pertama dan terakhir kali saya baca bukunya secara skimming sekali (karena malas dan berpikir ceritanya berat sekali sih). Inti ceritanya si, tentang seorang anak pemilik kebun binatang bernama Pi, yang ketika sedang menaiki kapal ke Kanada, terjebak badai dan kapal yang dinaikinya karam. Pi selamat karena sebelumnya sempat dilemparkan oleh seorang anak buah kapal ke sebuah sekoci. Di sekoci ini, Pi terombang-ambing bersama seekor zebra, seekor orang utan, seekor hyena, dan seekor Macan Bengali bernama Richard Parker.
Lalu Pi mulai beranjak remaja, dan jatuh cinta pada seorang gadis. Sayang hal ini terputus karena keluarga Pi memutuskan untuk pindah ke Kanada dan memulai hidup baru disana. Pi remaja ini yang mengalami pengalaman menakjubkan di sekoci.
Pi dewasa membuka film dengan luwes dan penuh misteri, dimana dia bertemu dengan seorang penulis yang berniat untuk menulis cerita tentang Pi. Saya suka dengan pemeran Pi dewasa, dan ternyata dia juga pernah main di film The Amazing Spiderman.

Saya lupa cerita di bukunya, sudah lama sekali sejak saya membaca buku itu, tapi kalau di film, kisah hidup Pi dibagi menjadi tiga bagian. Pi kecil, dimana waktu itu dia menjadi bulan-bulanan teman sekolahnya karena namanya yang aneh, yaitu Piscine. Selain itu juga masa kecil Pi dipenuhi dengan pendalamannya kepada tiga agama, Hindu, Katolik dan Muslim. Saya suka sekali dengan anggota keluarga Pi yang memiliki beraneka ragam perspektif, Ibu Pi yang sangat religius, dan ayahnya yang sekuler, karena pada masa kecilnya dia menderita polio dan diselamatkan oleh obat-obatan barat.

Saat berada di sekoci, Pi mengalami beberapa pengalaman, yang menakjubkan (favorit saya adalah scene ikan paus! It's really beautiful I could cry.), yang menyedihkan (sebagai pencinta binatang, saya paling nggak tega melihat binatang tersakiti), dan juga yang hampir tidak dapat dipercaya (hello pulau karnivora!). Karakter favorit? Tentu saja Richard Parker! Dari awal, rasanya sulit menyukai binatang ini, terutama karena sikapnya yang ganas dan karnivor. Tapi setelah kurang lebih setengah film berjalan, I thought I'll be cursing damn loud if something happened with him. Apalagi ketika ada salah satu scene dimana Richard Parker yang kelaparan tercebur karena berusaha mencari makan, dan dia tidak bisa naik lagi ke sekoci. Melihat Richard Parker yang bergelantungan ke sekoci hanya dengan menancapkan kukunya ke tepian sekoci, rasanya saya bisa merasakan perasaan Pi yang tidak tega untuk membunuh binatang itu setelah sekian lama merasa terancam olehnya.

Kalau saya pernah baca-baca di beberapa sumber di internet, wawancara dengan Yann Martel, Life of Pi ini bercerita tentang keimanan seseorang. Bagaimana kita bisa meyakini sesuatu, walaupun sesuatu itu tidak mungkin. Dan bagaimana kita bisa memilih sudut pandang, dan memilih cerita yang paling sesuai dengan hati kita untuk diyakini. Karena seperti itulah kita dengan Tuhan bukan? Endingnya tidak mengejutkan untuk saya yang pernah membaca novelnya, tapi mungkin bagi yang belum akan merasa terkejut, dan menimbang-nimbang dimana sebenarnya kebenaran itu terletak.

Life of Pi. 4 of 5. Very recommended. Watching in 3D or IMAX won't hurt. Ang Lee FTW!

PS. 
Ada pengalaman yang kurang mengenakkan waktu menonton di Botani Square XXI. Saya dan suami memesan ice blend green tea dan ice blencinno, waktu itu kasirnya bilang akan diantarkan kedalam. Saya setuju, karena biasanya tidak ada masalah dengan itu. Setengah jam film berlangsung, pesanan kami belum diantarkan, padahal saya sudah melihat pesanan beberapa orang diantarkan. Setelah sejam tidak datang, saya menjadi tidak sabar danmeminta suami untuk keluar studio. Ternyata menurut suami, pesanan kami sudah jadi, namun entah mengapa tidak diantarkan. Kasir yang ada tidak dapat memberi penjelasan. Sungguh sangat disayangkan, karena untuk harga yang menurut saya cukup mahal, pelayanan yang diberikan seharusnya sudah mumpuni. Suami saya sempat berniat untuk melapor ke manager, tapi karena waktu itu di sekitar XXI Cafe tidak terdapat manager, dan suami saya takut ketinggalan film yang saat itu masih berlangsung, suami saya mengurungkan niatnya.
Update
Komplain telah saya layangkan melalui @cinema21, dan telah mendapat tanggapan berupa permintaan maaf dari admin. Saya hanya berharap bahwa kejadian seperti ini tidak terulang lagi, karena sangat merugikan pelanggan yang telah membayar mahal untuk makanan maupun minuman.

November 21, 2012

Aftermath

Sepulang dari Bali, gue stay beberapa hari di Jakarta. Hari Rabu dihabiskan dengan tidur! Oh, suamiku sayang, suamiku malang, gue literally tidur nyaris 24 jam dalam hari itu. Cuma bangun buat makan, minum obat (yes, the sick was still there), dan tak lama kemudian, kantuk melanda dan tidur lagi. Suamiku, gue nggak tau dia ngapain aja hari itu. Cengok aja kali ya nontonin istrinya. :D
Kamis gue udah lumayan sehat, dan gue segera menagih janji suami buat nonton Skyfall. Iyaaaah, gue telat, tauk ih, disaat orang lain heboh ngomongin betapa gantengnya Q, gue cengok aja nggak ngerti. Akhirnya pergilah kita ke Pejaten Village buat nonton Skyfall.

Review Singkat - Skyfall.

Q-nya cakep! Hahaha, over all sih sebenernya filmnya oke, actionnya keren, apalagi opening scene yang pake excavator itu, walopun lebay tapi luar biasa. Silvanya keren abis, he may be the best villain... after Joker, of course. :p Cuma... filmnya kepanjangan. Dua setengah jam aja lho. Belum AC bioskop dingin aja, gue makin srot-srot aja. Bosen jadinya. Terus seriusan, I hate sad ending. And I still prefer Pierce Brosnan's Bond than Daniel Craig's. Tampaknya gue lebih suka yang flamboyan begitu-begitu deh dibanding yang super duper serius. Tapi seneng banget sama si Moneypenny, karakternya lebih ngena dibanding cewek Bond yang satu lagi, I even forgot her character's name. Ralph Fiennes as Mallory, I like! Jadi, kalo buat hiburan singkat, nonton aja. I demand more Q's scene! Hahaha.

Abis nonton James Bond, gue sama suami mampir ke Aksara Store Kemang buat liat annual salenya mereka, tapi nggak beli apa-apa akhirnya, soalnya gue juga abis beli The Ring of Solomon di Gramedia Pejaten. Have I told you that this is a Bartimaeus novel? And have I told you that I love him so much? Novel ini terpisah dari trilogy-nya yang kemaren, tapi ceritanya tetep keren, huhu.. Jonathan Stroud ciamik banget sih kalo udah penokohan sudut pandang pertama, terus footnotenya yang menggemaskan itu lho. Barty, I really love you! Udahan ya, kalo nggak bisa jadi review panjang, dan ngomong-ngomong soal review, gue jadi inget udah menelantarkan blog gue yang ini. Duh.

Lanjut jalan ke Plaza Blok M, tell me what you really have to say, but I like this place. A lot of food choice, terus bioskopnya juga jarang rame, dan studionya banyak. Gue nonton lagi dunk disini, Alex Cross this time. Pingin nonton karena penasaran dan dulu ngefans banget sama karakter itu pas baca novel James Patterson.

Review Singkat - Alex Cross


Plot-nya lambat dan sedikit boring pas pertengahan film kebelakang. Sebenernya si premise filmnya oke, villainnya keren, Matthew Fox berhasil banget buat jadi orang yang paling dibenci sedunia. Tapi Tyler Perrynya kurang greget, dan meanwhile si Alex Cross punya banyak banget chemistry sama partnernya di buku, it doesn't seems like that in the movie. Film ini si so-so ya, tonton di DVD aja lah, nggak wajib buat nonton di bioskop.

Nonton done, makan malam di Domino's, I love their thin crust pizza sama chicken wings saus barbecue! Ini seriusan nggak ada yang mau buka Domino's di Sukabumi ya? T__T

Besok Jumatnya ketemuan Wulan dan Teguh di Margo City dalam rangka nonton Breaking Dawn part 2. I am not big fan of Twilight Saga, tapi karena gue selalu nonton yang sebelum-belumnya, gue memutuskan harus nonton ini, biar bisa puas mockingnya. And Taylor Lautner is kinda hot, isn't him? Dateng sekitar jam 11, eh wait, kok Platinum Screens udah rame aja ABG-ABG pada ngantri mengular sampe keluar studio? Akhirnya gue bergegas, terus nyuruh suami ngantri, sementara gue turun ke Bread Talk buat beliin dia sarapan. Oh suami, engkau sangat berjasa supaya cewek-cewek ini bisa nonton Edward Cullen. :))

Review Singkat - Breaking Dawn part 2


Intinya sih tontonlah film ini dengan hati jumawa dan kepala kosong. Nggak usah pake mikir, mempermasalahkan ini itu, keganjilan disana-sini, efek yang jeleknya minta ampun. Yang gue inget si, gue banyak komentar sama suami, cekikikan sambil bisik-bisik komentar sama Wulan. Ceritanya plek sama bukunya kok, kayaknya sih nggak ada yang diubah-ubah. Nggak penting juga nonton di bioskop, DVD aja lah, atau kalo bisa download gratisannya aja. Hahaha.

Sempet mampir Disc Tarra, eh, DVD Testpack udah keluar! Sik asik, cuma Rp. 39.000,- udah dapet yang original, gue sebenernya rada sangsi, not a big fan of Acha, gue suka geli aja liat ketawa dia sama nangis yang sebelas dua belas. Sampai rumah langsung nonton, walaupun suami rada protes, karena sebelumnya udah dipaksa nemenin nonton Breaking Dawn dan sekarang harus nonton film "gue" lagi.

Review - Testpack

Jujur surprise banget, ternyata filmnya bagus! Banget! Mungkin paling noticeable dibandingkan tiga film yang kita tonton sebelumnya. Suami sampai bilang, "Untung ya beb, kita nggak nonton film ini di bioskop, diusir kali ya kita saking berisiknya keketawaan." Emang dia parah abis ketawanya, terutama di scenenya Dr Peni S sama pasangan Sutoyo. Chemistrynya Acha-Reza keren abis. Mereka mirip suami istri beneran, dari gesture, tata cara ngomong, nggak dibikin-bikin. I can't believe I say this, but I really love Acha here. She's sweet, fragile, sedangkan Reza lebih ke arah tengil. O my, I love, love, love this movie.

What a wonderful long weekend! Jadi kapan ada tanggal merah sama cuti bersama lagi? :D

August 13, 2012

The Tenderloin Rises

Kemarin akhirnya jalan-jalan juga setelah hampir satu bulan weekend nggak kemana-mana selain beribadah (pencitraan sekali, nyahaha..). Siapa sangka bisa hepi banget cuma dengan movie date dan dinner bareng suami di luar, secara selama di Sukabumi, kita jadi anak rumahan banget, nesting, dan nggak kemana-mana.
Jadi dimulailah Sabtu kemarin dengan movie date di Pejaten Village XXI, The Dark Knight Rises (I know, I know, it's late, I definitely live in the cave) dan Total Recall. Review awam gw ya..

The Dark Knight Rises
Sumpah penasaran abis sama film ini,secara banyak yang bilang kalo film ini ada penutup trilogi yang cakep banget dari Nolan's Batman trilogy. Sebelumnya sempet nonton ulang dua film Batman sebelumnya, Batman Begins dan The Dark Knight, biar nggak terlalu lupa prolog-prolognya.
Over all sih bagus, tapiii.. kepanjangan dan banyak yada-yadanya. Hihihi, itu kalo kata gw sih. Trus gw banyak tanya mengapa begini mengapa begitu sama suami, secara banyak yang nggak masuk akal menurut gw. Tapi kalo scene action ya jangan ditanya ya, emang keren abis sih, apalagi scene pertama di pesawat itu.
So far, what I love most is..
Image from here

Selina Kyle! Seriously, Anne Hathaway is soooo gorgeous! I am not comparing her with any Catwoman, or whoever else, but she definitely has a style. Love her chemistry with Wayne from the beginning, and that makes me hating Miranda Tate as well. :p
What I hate most is..
Image from here
Bane? OK, dari awal gw nggak ngerti motifnya si Bane ini apa, karena jelas-jelas dia nggak butuh duit, menyatakan dirinya necessary evil dan bla bla bla. Kebanyakan ngomong pula. Dan nggak keren kayak Joker. Nah, mungkin karena sebelumnya abis nonton The Dark Knight dan Joker is the coolest villain ever, ngeliat Bane serasa meh besar yah.

Males ngejelasin secara lengkap, baca sinopsisnya aja ya, I am sure they are already available everywhere :p (review macam apa iniiiiih..)

Selesai nonton round 1, kita rencana mau nonton lagi, tapi nanti aja pas udah buka, karena gw craving green tea blendnya (gulp). Jadi sebelumnya puter-puter dulu ke Gramedia, dan ada promo buy 3 get 1 free untuk buku terbitan Gramedia dan KGP. Yay, happy, happy!

Total Recall sih over all menghibur, walaupun sempet baca review seorang sineas yang nyebutin kalo filmnya jelek banget, apa karena gw cuma penonton awam yang seneng-seneng aja nonton Collin Farrell dan Jessica Biel lari sana-sini yah? Hahaha..

What I love most..
The Fall. Alat ini ngingetin gw ke film The Core deh, dimana perjalanan ke inti bumi bisa dilakukan. Sebenarnya bisa nggak sih? Keren banget cara The Fall itu menghubungkan antara satu tempat ke tempat yang lain, dan saat pembalikan gravitasinya. 

What I hate most.
Ada sih, cuma kalo dibilangin jadi spoiler. Haha, nonton aja deh filmnya, kalo bukan movie buff pasti seru2 aja nontonnya.

Abis selese nonton dinner bareng di Abuba Steak. Been a while since the last time we went here, dan udah rencana dari lama juga. Sampai di Abuba jam setengah delapan, dan masih crowded banget duunk. Malam minggu sih ya, untungnya saya sama suami cuma berdua, nggak sampai lima menit disana udah bisa dapat tempat duduk. Waiting list-nya masih banyaaaak banget, dan rata-rata sekeluarga gede sih. Ngintip ke waiting list, ada yang pesen sampe 22 seat lho. Wohooo..
Saya pesan New Zealand tenderloin steak, dan suami pesen rib eye.
Pesanan saya, yang suami nggak difoto. Astaga, ngeces liat fotonya aja. Astagfirullah.
Sampai selese makan dan ngobrol-ngobrol dulu kira-kira jam sembilan malam, waiting list masih penuh duunk. Selama bulan puasa ini Abuba buka sampai jam 3 pagi lho, jadi bisa sahur delivery order kesini. Asyik ya? :D

Intinya Sabtu kemarin menyenangkan sekali. Fast forward to next weekend, please? Hihi..