Pages

Showing posts with label relationship. Show all posts
Showing posts with label relationship. Show all posts

March 13, 2013

Pertanyaan Melati

"Do you believe in second chance?"

Suatu pagi Melati menanyakan hal ini kepada saya.

"Tungguuu.. masalah second chance apa dulu ini? Secara umum sih gw percaya sama second chance, tapi kalo hubungannya sama selingkuh, gw nggak bisa janji deh. Gw percaya, tapi kalo misalnya kejadian sama gw, jujur, I have no idea what to do."


I don't tolerate infidelity. Ever. Nggak tau kenapa,ngebayanginnya aja saya nggak mampu. Amit-amit deh kalo sampai kejadian pada saya. Makanya waktu Melati tanya ke saya, apakah saya akan memberikan kesempatan kedua kalau pasangan saya sudah ketauan nggak setia, saya bener-bener nggak tau deh harus ngomong apa.

Kalau baca disini dan disini, jaman sekarang apapun bisa terjadi ya. Ketakutan buat hal itu ada, cuma salah seorang ayah dari teman saya pernah berkata, "Berdoa aja, dan jadi orang baik. Kalau kita jadi orang baik, insya Allah pasangan yang didapat bakal baik juga." Nah, berarti kembali ke have a faith, soalnya kalo misalnya nggak gitu, bakal ketakutan terus dunk untuk memulai hubungan?

Nah, kembali kalau misalnya menemukan pasangan kita selingkuh, siapkah kita untuk memberinya kesempatan kedua?

YES? Mungkin iya. Walaupun perjalanan yang ditempuh untuk berkata iya ini pasti bakalan sulit dan berliku banget. Tapi demi cinta? Putus waktu pacaran aja udah sakit banget, apalagi cerai. Kalau misalnya alasan cinta terlalu naif, mungkin demi anak-anak? I haven't had kids yet, tapi kalo denger-denger dari orang lain (even my mom said that) cinta kepada anak bisa membuat orang tua melakukan apa saja, termasuk berusaha keras mempertahankan atau memperbaiki pernikahannya. 

NO? Karena mungkin usaha yang ditempuh akan sangat sulit dan menyakitkan. Pertama, apakah kita bakal mempercayai pasangan seperti sebelum itu terjadi? Kedua, siapkah kita mengubur dalam-dalam kejadian yang sudah lalu dan berusaha untuk TIDAK PERNAH mengungkit kejadian itu kembali dengan pasangan kita pada saat terjadi perdebatan antara kita dengan pasangan? You know, it's easy to forgive, but forget?

Jadi, sebenarnya saya juga nggak tahu langkah apa yang saya bakal pilih KALAU itu terjadi. Dan saya nggak tahu, apakah saya berani memberikan KESEMPATAN KEDUA itu pada saatnya nanti. Yah, mari berdoa saja agar hal-hal yang tidak diinginkan itu nggak terjadi di hidup kita semua. Amin :)

March 07, 2013

Trust is a basic in relationship. If you can't trust, why bother?

Pertama-tama saya ucapkan alhamdulillah, syukur yang sangat mendalam (ini udah kayak mau pidato ya..) karena Allah SWT memberikan saya suami yang luar biasa. I never, never, never in my life, selama saya pacaran maupun setelah menikah (walaupun pernikahan saya baru seumur jagung ya..) doubt him. Ever. Dan mudah-mudahan untuk seterusnya juga seperti itu. Amin. Nggak tau kenapa ya, apa saya yang orangnya terlalu percaya, apa suami saya yang orangnya terlalu meyakinkan. Yang penting saya percaya dia 100%. Dan dia juga percaya saya sih. Kayaknya. Dia nggak pernah nanya-nanya aneh dan sebagainya.

photo from here
Salah seorang teman saya dulu pernah bilang kalo di dunia ini nggak ada laki-laki yang setia. I keep and keep on denial about it. Really? Saya nggak tahu sih kebenarannya, but I keep faith. Nobody, no one can even have proof that God is exist, but we still keep faith, don't we? That's what I thought. I keep faith.

Hubungan saya dan suami juga nggak mulus-mulus aja, ada ups and downs, banyak masa damai, ada juga masa-masa childish dimana kita (baca: saya) sering egois dan keukeuh mempertahankan pendapat saya.  Walaupun salah. Berdebat deh.Tapi nggak pernah sekalipun saya kehilangan kepercayaan saya sama suami. 

Yakin nggak pernah stalking suami?

Yaaaaah, pernah sik baca bbmnya, atau baca sms yang ada di handphonenya. Sesekali. Suami saya juga jarang twitteran, jadi saya juga jarang liat tab mention-nya dia. Jaman dimana socmed tersebar dimana-mana, susah ya nahan diri buat nggak kepo. Tapi kayaknya suami nggak pernah checking on me, soalnya emang saya orangnya extrovert banget kalo kata dia, kalo ada apa-apa pasti ketauan, hehehe.. Soalnya saya ekspresif sih kalo ada apa-apa, pasti langsung update di twitter atau blog atau path, hehehe...

Kenapa tau-tau nulis ini?

Yaaaaah, miris aja sik. Kenal sama pasangan yang rencananya mau menikah dalam waktu dekat, tapi kayaknya they have very serious trust issue. It's not my business tough, tapi ngeliat kayak gitu bikin saya bertanya-tanya, seriously, you're getting married? Really? Nggak kebayang aja sik, kalo misalnya sebelum nikah aja, kadar kepercayaan-nya seminim itu, gimana nanti udah nikah ya? Marriage is really a work for me, hard work, and we really need good basics in here.

Udah kepalang cinta? Saya adalah satu dari segelintir orang yang percaya bahwa "nggak cukup hanya cinta". Banyak banget hal yang perlu dijaga, perlu diciptakan untuk menjaga suatu pernikahan. Saling percaya satu sama lain juga.

Tapi yaaa, inget ya, bukan berarti harus apatis juga sama kehidupan pasangan. Seenggaknya kenalan sama temen-temen deket pasangan, temen-temen kantornya, orang-orang terdekatnya. Hal ini juga bisa membantu kita untuk meningkatkan kepercayaan kita ke pasangan. Saling cek telepon masing-masing nggak papa kok, I'll never keep any passwords from my spouse, jadi kalo misalnya mau buka ini itu, ya monggo aja. Suami saya juga gitu, mungkin sikapnya yang kayak gitu yang bikin saya percaya sama dia.

Intinya mah mungkin porsi yang tepat kali ya. Kepo sama kehidupan pasangan kita (apalagi bagi pasangan yang punya hubungan jarak jauh) itu perlu, nggak boleh juga kita nggak pedulian. But as long as it doesn't consume you. Capek nggak sih kalo misalnya hubungan dijalani dengan curigaan terus, atau misalnya kegiatan sehari-hari yang kamu lakukan adalah checking on his/her mention tab on twitter, atau stalking on his/her friends just to prove something. Yah, kalo udah kayak gitu, seriously you want to continue your relationship? Wow, relationship is hard work, but THAT's a really hard and consuming work. And you'll do it over and over and over in your life? Poor you.

Disclaimer. Tulisan ini bukan tulisan expert lho, setuju atau nggak setuju, itu sih terserah masing-masing pihak. Lagi pula, every relationship is different, jadi mungkin cara penanganan tiap-tiap pasangan juga berbeda-beda ya. Lagian tahu apa sih saya yang baru sebentar banget ini menikah, ya, ya, ya? So, I am not judging everyone, but if you feel judged, maybe you realize a truth inside my writing. *wink*