Pages

Showing posts with label Zafran. Show all posts
Showing posts with label Zafran. Show all posts

January 21, 2020

Tentang Zafran dan Speech Delay part 2

Wow.

Blog ini masih ada ya wow.

Jujur saya sedikit terkejut karena barusan ada yang email saya mengenai postingan saya disini. Ternyata blog saya masih ada yang baca lho! Ya dimaklumi sih, untuk ibu dengan anak speech delay atau spektrum lainnya pasti rajin googling pengalaman ibu sejenis, untuk mengatasi kepusingan sehabis konsultasi dengan profesional.

Jadi ibu ini tanya perkembangan Zafran sekarang seperti apa. Apakah Zafran  masuk SD untuk anak berkebutuhan khusus? Terapinya bagaimana? Apa yang orang tuanya lakukan hingga saat ini?

Hingga Desember 2019 kemarin Zafran masih terapi wicara dan okupasi sebanyak masing-masing dua jam per minggu. Mulai bulan Januari ini, saya dan ayahnya memutuskan Zafran stop terapi dengan beberapa alasan, diantaranya adalah:

  1. Zafran sudah dapat berkomunikasi dua arah. Walaupun dibandingkan perkembangan teman seusianya yang bisa membentuk kalimat panjang dan lengkap, dia masih belum bisa mengejar, akan tetapi dia sudah bisa menyampaikan kalimat-kalimat pendek, dan merespon pertanyaan.
  2. Motorik Zafran juga masih tidak sama dengan perkembangan teman-teman seusianya, akan tetapi menurut saya sudah cukup lumayan. 
  3. Terapi Zafran lokasinya cukup jauh dari rumah, dan bulan Juli dia sudah masuk ke SD. Saya berpikir akan cukup melelahkan kalau terapinya dilanjut, apalagi rencananya SD nanti akan saya masukkan ekskul atau les tambahan. Selain itu, jam terapinya membuat Zafran sering pulang duluan dari TK, sehingga sedikit mengganggu aktivitasnya.
SD yang saya pilih kemarin kebetulan adalah sekolah alam inklusi yang menyediakan guru shadow. Akan tetapi, ketika dilakukan trial, Zafran dapat masuk ke kelas normal. Tentunya ini disesuaikan dengan penilaian kepada masing-masing anak, dan saya serta suami juga akan legowo apabila pada pertengahan tahun pelajaran, misalnya sekolahnya memutuskan Zafran membutuhkan guru shadow. Selama Zafran di TK, Zafran cukup bisa mengikuti pelajaran, walaupun menurut gurunya Zafran sedikit "malas" bersosialisasi dengan anak seumurannya. Saya menarik kesimpulan, karena apabila bersosialisasi dengan orang dewasa, orang dewasa akan cepat mengerti meskipun Zafran cuma berbicara sepatah dua patah kata.

Selama pengalaman terapi saya kurang lebih empat tahun ini, saya belajar sesuatu. Untuk anak dengan kebutuhan khusus seperti Zafran, tidak ada milestone pasti untuk setiap anak, walaupun diberikan terapi yang sama. Ada yang berkembang dengan cepat, ada yang berkembang dengan lambat, ada yang tidak berkembang sama sekali. Ini bukan berarti saya mencoba membuat semangat orang tua yang lain down ya. Tapi memang karena spektrum kebutuhan khusus ini luas sekali, setahu saya belum ada ilmu pastinya bagaimana cara menyembuhkan anak. Bahkan setahu saya, setiap anak yang berkebutuhan khusus pasti akan "berbeda" dengan anak normal lainnya. Banyak yang bilang, Zafran termasuk beruntung karena terapinya "manjur" dan Zafran sudah bisa berkomunikasi dengan normal. Tapi untuk orang-orang yang berinteraksi dengan Zafran setiap harinya, pasti masih bisa merasakan "keanehan" yang dimiliki Zafran. 

Pengalaman dibully? Oh tentu pernah. Ada beberapa saat dimana Zafran disebut "aneh" oleh teman-temannya. Yah, untungnya anaknya belum mengerti, yang sakit hati tentu saja ibunya.Contohnya, masih ada yang bertanya kenapa Zafran masih belum bisa naik sepeda roda dua. Bagi anak-anak normal tentu saja pertanyaan itu wajar saja. Tapi untuk anak dengan kekurangan motorik kasar seperti Zafran, tentu saja sebenarnya saya sedikit kesal dengan pertanyaan tersebut, walaupun orang yang bertanya mungkin tidak mengetahui kondisi yang sebenarnya.

Saat ini Zafran sudah bisa menulis, walaupun kelihatan gripnya masih lemah. Ini juga PR buat saya, karena jujur, sejak saya berkerja kembali, saya meng"outsource"kan pengasuhan Zafran ke mbak di rumah. Otomatis pasti kegiatan-kegiatan yang bersifat theurapetic juga berkurang kan? Plus minus sih, di satu sisi Zafran juga sudah banyak berkegiatan di luar rumah.

Kalau ditanya masih galau nggak tentang masa depan Zafran, tentunya wajar untuk setiap orang tua galau tentang masa depan anak. Saya masih bertanya-tanya apakah nanti Zafran bisa memiliki teman-teman dekat, apakah Zafran bisa berkerja dengan normal, apakah Zafran akan bisa berkeluarga? But, one step at the time. Until next time.

PS. Terima kasih, mbak Citra untuk emailnya. :) :)

January 14, 2018

To the Moon and Back

Punya anak berkebutuhan khusus membawa banyak perubahan di dalam hidup saya. Yang paling terasa sih, saya menjadi less-competitive person. Rasanya sejak kecil saya selalu diberikan ekspektasi yang (saya pikir) cukup tinggi, harus selalu rangking satu, masuk akselerasi, IPK almost 4, orang tua saya tidak mau menandatangani buku ulangan kalau nilainya dibawah sembilan. Saya menjadi orang yang sangat kompetitif, not that a bad thing, dan mungkin sedikit entitled (?) karena (hampir) selalu bisa memenuhi seluruh ekspektasi yang diberikan kepada saya. Menjadi mahasiswa di umur 16 dan lulus di umur 20? Lumayan juga kan?

Jeleknya, saya selalu merasa terlalu keras dalam hidup saya sendiri. Once, my boyfriend (now my husband) said to me, you treat yourself too harsh. Gak pede. Selalu merasa ada yang kurang. Perfeksionis? Entahlah. Dan ini terbawa sampai saya kerja dan menikah.

Ketika saya punya Zafran, jujur saya mengingatkan diri sendiri, saya HARUS menerima anak ini apa adanya. Maybe, I would be half tiger mom, but yeah.. I really didn't know. Eh, turned out ternyata Zafran memiliki speech delay. Anaknya impulsif. So far Zafran tidak (belum?) didiagnosa masuk ke spektrum autis atau ADHD, tapi impulsivitasnya dinilai cukup tinggi.

Dan, punya anak seperti Zafran mengubah saya. Bisa dibilang hikmah? I don't know. But I learn to slow things down. Cool it a bit. Let it go. Ada beberapa jenis orang di hidup ini, ada yang menganggap hidup sudah sulit, why's so serious? Ada yang menganggap kerja keras dalam hidup ini sangat dibutuhkan karena untuk itulah kita hidup. Saya juga tidak tahu yang mana yang paling benar. Tapi saya belajar kalau ternyata menyederhanakan sesuatu, mengambil "pause" dalam hidup itu penting. Saya nggak mau mengatakan ini pengorbanan, karena saya yang memilih untuk punya anak (walau beberapa kali tersirat dalam hati sih, duuuuh Mama rasanya sudah berkorban banyak banget buat kamu nak..) jadi untuk bilang saya sudah berkorban demi Zafran rasanya gak fair kan?

Saya belajar untuk memperlambat hidup. Being less-competitive. Berhenti kerja, which is not gonna happen with five years ago-Dela. Gila lah, jadi wanita karir, memiliki gaji yang tinggi dan membawa keluarga saya ke next level wealthness itu salah satu goal saya dulu. Zafran masuk bilingual preschool? Zafran bisa menyusun tiga kata tanpa tercerai berai aja saya sudah alhamdulillah.

Jadi, walaupun terdengar amat klise, memang segala sesuatu itu ada hikmahnya. Note to myself, punya Zafran itu ada hikmahnya.




--- this is a self reminder how lucky I am to have you, son ---

To the moon and back ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ

September 05, 2017

Tentang Zafran dan Speech Delay

Beberapa kali saya ingin membahas masalah delayed speech pada Zafran, cuma semacam kurang pede euy. Karena keterbatasan pengetahuan dan informasi, yang saya tahu ya cuma dari dokter dan hasil googling dari forum-forum semata aja. Jadi disclaimer postingan ini.... saya hanya bercerita sesuai pengalaman yang sudah saya alami dan konsultasi dari beberapa dokter dan psikolog yang menangani Zafran ya.

Cerita awalnya dari mana ya... secara umum tumbuh kembang Zafran memang termasuk normal, walau selalu saja mepet deadline. Saya lupa sih, kapan pertama kali dia membalikan badan, duduk, merangkak, berdiri dan berjalan, tapi seingat saya semuanya masih masuk ke range normal, walaupun selalu saja di akhir-akhir batas usianya. Saya nggak terlalu cemas pada saat itu, toh katanya dulunya juga ayahnya termasuk terlambat berjalan.

Usia 22 bulan Zafran masih belum bisa berbicara, baru bisa babbling “Enah... enah...”. Itupun saya sebenarnya tidak begitu khawatir, walaupun menurut “kurikulum” seharusnya anak 22 bulan sudah harus bisa menguasai beberapa vocabulary. Hanya pada saat itu saya membuat kesepakatan dengan ayahnya, apabila pada saat usia 2 tahun Zafran belum ada perkembangan, akan kami konsultasikan dengan spesialis anaknya.

Saat Zafran usia 24 bulan, dan belum ada perkembangan dari babblingnya saat itu, saya dan suami datang ke spesialis anak langganan kami. Kebetulan DSA ini juga mengikuti tumbuh kembangnya Zafran, dan dia langsung menyimpulkan sepertinya anak kami memiliki speech delay. Waktu itu kami khawatir sih, cuma karena kurangnya informasi, ya kami menyangka kalau speech delay itu hanya terlambat berbicara tok. DSA mereferensikan kami ke dokter rekam medis, setelah dikonsultasikan dan tes pendengaran (alhamdulillah pendengaran Zafran baik-baik saja, sebenarnya waktu itu selain babbling Zafran juga sudah mulai bisa humming beberapa lagu, hanya memang belum bisa berkata sepatah katapun), Zafran didiagnosa speech delay. Dokter rekam medis saya di Hermina akhirnya “meresepkan” terapi wicara seminggu sekali.

Waktu itu pun saya mengira speech delay ini hanya berpengaruh terhadap kemampuan bicara saja. Zafran memang aktif, walau belum bisa disebut hiper, dan concentration span-nya pendek sekali. Tapi kan memang anak-anak belum bisa berkonsentrasi dalam jangka waktu lama bukan? Zafran sama sekali tidak suka nonton TV pada saat itu, tidak suka duduk bermain, senangnya jalan atau lari-lari saja kesana kemari di rumah. Nonton video pendek dia masih senang, hanya saya batasi karena salah satu saran dari terapisnya adalah mengurangi audio visual di rumah. Orang-orang di sekitar saya berkata, “Ah, anak kecil kan memang seperti itu, gak mau diem” atau “Ah itu mah anaknya belum bisa aja kali, nanti juga bisa sendiri” atau “Anak gw juga dulu gitu kok, nanti juga pinter sendiri udah gedean”, akhirnya saya mencoba membiarkan, walau rasanya memang ada yang salah dengan konsentrasi Zafran.

Selain itu, walaupun Zafran termasuk lincah, akan tetapi Zafran tidak suka bermain di playground yang ada tantangannya. Misal naik perosotan, naik ayunan, naik tangga atau semacamnya, sementara teman-teman sebayanya asyik memanjat-manjat. Naik sofa aja dia nggak mau lho. Inipun saya maklumi dalam hati, karena yaaa.. mungkin memang tipe anak saya seperti itu.

Selain itu, Zafran pun sulit diberi makanan yang keras. Ini memang sedikit banyak salah saya, karena waktu itu saya terlalu menyerahkan perihal makanan kepada pengasuh. Saya memang memasak makanan Zafran sendiri, akan tetapi pengasuh saya sering mengeluh apabila makanan tersebut tidak berkuah karena menurutnya Zafran sulit menelan. Waktu Zafran masih 8 atau 9 bulan pun saya pernah memergoki nasi tim yang saya siapkan dihaluskan lagi oleh pengasuh saya agar mudah ditelan. Padahal saya ingin Zafran bisa belajar mengunyah, akan tetapi saya saat itu pada posisi yang sangat membutuhkan pengasuh, dan akhirnya saya biarkan saja.

Setelah empat bulan terapi wicara, Zafran mengalami banyak perkembangan. Walaupun pengucapannya banyak yang tidak begitu jelas, Zafran sudah mulai mengenal beberapa kosa kata. Pengucapannya baru satu huruf, dan pertanyaannya belum terlalu jelas, akan tetapi pengenalan terhadap benda-benda di sekitarnya sudah lumayanlah. Akan tetapi komunikasi dua arahnya masih jelek sekali. Singkat cerita saya belum bisa ngobrol sama anak saya sendiri.

Pada saat itulah ada ketakutan Zafran menderita autisme. Dokter rekam mediknya meyakinkan saya bahwa Zafran tidak autis, karena responnya masih baik. Akan tetapi memang komunikasi dua arah, konsentrasi dan motorik kasar dan halusnya masih jelek sekali. Kemudian Zafran “diresepkan” terapi Sensori Integritas dan Okupasi untuk melatih konsentrasi dan motorisnya. Oh iya, waktu itu apabila Zafran diajak mengobrol, alih-alih menjawab, dia malah menirukan (imitasi) apa yang saya katakan. Dokter rekam mediknya juga menyarankan agar di rumah Zafran sering-sering diajak berbicara tentang apa saja, agar terbiasa berkomunikasi dan menambah kosa katanya.

Dua bulan setelah itu saya resign. Selain lelah dengan pekerjaan, saya juga merasa bersalah dengan kondisi anak saya. Saya tahu kalau mungkin ini bukan salah saya semata, tapi dokter berkata salah satu penyebab speech delay anak saya adalah kurangnya stimulasi di rumah. Memang benar ada anak yang tumbuh kembangnya baik-baik saja tanpa harus ada stimulasi apapun, tapi sayangnya anak saya tidak termasuk anak-anak itu. Penyebab lain speech delay adalah oral-motor issues yang dapat disebabkan oleh autisme. Akan tetapi dokter saya meyakinkan saya kalau Zafran tidak autis, dan penyebabnya lebih ke stimulasi dan efek psikologis dari cara membesarkan anak di rumah.

Setelah Zafran setahun diterapi, saya berinisiatif mendatangi salah satu psikolog yang juga memiliki development center untuk anak berkebutuhan khusus. Tempat terapinya ini sudah ada dimana-mana jadi sepertinya kredibilitasnya cukup baik. Saya menanyakan hal yang sama, apakah anak saya memiliki autisme. Jawabannya tetap tidak. Zafran memiliki apa yang dinamakan speech delay in absentia, dimana gangguan konsentrasinya cukup parah. Dia juga mengiyakan apa yang dikatakan dokter rekam medik saya yang terdahulu, bahwa penyebabnya adalah stimulasi dan cara parenting di rumah. Selama ini saya membiarkan Zafran menggunakan tangan kanan dan kirinya, ternyata itu tidak dianjurkan. Saya baru tahu kalau Zafran sebaiknya dianjurkan menggunakan tangan kanannya, agar otak kirinya bisa terus bekerja, dan meningkatkan daya konsentrasinya. Hanya boleh menggunakan satu bahasa saja di rumah. Tidak mengiyakan permintaan anak kecuali si anak mengatakan apa maunya. Terkadang saya suka mengambilkan susu misalnya apabila Zafran menunjuk susu. Hal itu sebaiknya dihindari, supaya anak bisa menyampaikan maunya melalui kata-kata.

Selain itu penggunaan gadget, tv atau bentuk audio visualnya saya kurangi. Zafran diminta diet gula dan gluten oleh psikolognya, dan saya ikuti. Sebisa saya. Hehehehe. Untungnya Zafran belum dibiasakan jajan, sehingga dia jarang meminta biskuit atau wafer. Roti dan mie juga saya kurang seminggu sekali. Yang sulit memang kerupuk (!) dan susu uht vanilla, karena sejak lepas ASIP, Zafran saya beri sufor berperasa, jadinya setelah itu dia tidak mau susu UHT yang plain.

Saat ini Zafran mengikuti 4 jenis terapi, behaviour therapy, sensory integrity, terapi wicara dan okupasi terapi. Total terapinya enam jam saja seminggu. Selain itu Zafran saya ikutkan playgroup dari Senin sampai Jumat untuk mengasah aspek sosialnya, karena salah satu efek dari speech delay ini adalah kurangnya tingkat sosial anak dan kesulitan bonding dengan teman sebaya. Banyak kok yang komentar kasian banget anak umur tiga tahun sudah “disekolahkan” sedemikian rupa. Saya juga kadang kasian kok liat Zafran. Cuma sekarang anaknya sudah terbiasa, jadi sepertinya dia enjoy saja. Tidur siang saja sudah jarang. Untungnya sekolah alam dan tempat terapi yang dia ikuti punya konsep yang fun, sehingga anaknya seperti diajak bermain. Saat ini malah Zafran lebih excited kalau harus terapi dibanding sekolah, hehe..

Di rumah saya juga melakukan “terapi” pada Zafran. Dari mulai saya ajak bicara terus-terusan, menggambar, mewarnai, membaca kartu. Sebenarnya hal-hal yang remeh keliatanya, tapi percaya deh sulit dilakukan pada anak yang tingkat konsentrasinya rendah.

Sekarang usia Zafran tiga tahun tujuh bulan. Tepat hari ini. Kosa katanya sudah lumayan sekali, terapisnya bilang dia termasuk anak yang mudah mengingat. Sudah bisa berkomunikasi lumayan baik, walau kadang-kadang orang lain (selain saya) suka kurang memahami perkataannya. Masih suka out of place di tengah pembicaraan, yang diomongin apa, tau-tau dia nyeletuk apa atau nyanyi apa. Sulit dijelaskan, bakalan tahu kalau sudah pernah berinteraksi dengan Zafran. Sudah bisa naik tangga sendiri, tapi turun tangga masih suka takut. Sudah mau main perosotan, walau kadang suka mandeg di puncak atau teriak-teriak heboh pas meluncur kebawah.

Kadang saya suka takut membayangkan masa depan anak saya. Saat ini semuanya masih abu-abu, suami saya sih bilang sepertinya Zafran itu normal walau termasuk yang terlambat. Saya masih takut sih, walaupun saya yakin pasti ada jalan kedepannya. Tahun depan Zafran seharusnya masuk TK A, apakah dia sudah bisa dimasukkan TK? Apa dia bisa masuk SD sesuai dengan jadwalnya? Saya nggak tahu. Yang pasti saat ini saya dan suami berusaha memberikan yang terbaik aja buat Zafran, selama kami bisa.


October 17, 2015

Family Trip : Ancol sekaligus Reuni!

So, with anything happened (I wish I could tell you, maybe someday I will), I really miss writing. In this blog and in my personal journal. So today, the boys are sleeping, while I really have a lot of deadline and work to do, first blogging!

Agustus kemarin, ada acara reunian Teknik Sipil Undip. Acaranya untuk beberapa angkatan sik, awalnya males haha, tapi pas denger kalo acaranya diadain di Putri Duyung Ancol lumayan tertarik juga, apalagi Zafran belum pernah ke Ancol. Dan ternyata lumayan sukses juga, yang datang satu angkatan lumayan banyak, walaupun akhirnya ga bisa ikutan acara puncaknya karena kemaleman dan ngga enak hati udah ninggalin Zafran sama suami di hotel seharian. Besoknya kita bertiga ga ikutan acara jalan santai di Ecopark tapi cabut ke Sea World, liat ikan, binatang favoritnya Zafran (selain ayam dan bebek. Oh well)

Baru bangun tidur dan rada bete. Karena panas. Apa kabar mau diajak jalan-jalan ke pantai di Bali nak? Batal aja kalo gitu yah? Btw, udah lama banget ngga ke pantai Ancol dan sekarang lumayan bersih ya.
Meet again! Karena rata-rata temen kuliah domisilinya di Jakarta, jadi jarang banget ketemu. Eeeeh, pas ketemu udah pada bawa buntut kayak gini. Seumuran lagi.
Mulai bete karena ngantuk. Abis ini langsung cabs berdua sama bapaknya bobok di hotel, hehe.


Terakhir ke Sea World sendiri... mungkin 6 tahun yang lalu? Waktu masih kerja di PP? Sempet ditutup kalo ngga salah karena ada masalah kepemilikan apa sih yang gw juga ga ngerti, untungnya kemarin udah buka. Karena bingung mau kemana lagi, kalau ke Dufan masih kekecilan kali ya Zafrannya. Buat anak dibawah 100 cm masih belum bayar tiket... errr, Zafran kayaknya udah bayar sih harusnya, tapi karena duduk di stroller, ngga ditagih tiket! Haha.. Anyway, Sea World masih bagus, favorit banget dari dulu, cuma kemaren rameeeee. Rame banget, sampai jalan rada susah dan di dalem panas. Weekend? Mungkin harus cuti kali ya kalau mau sepi kesini.


Zaf loves fish and darkness. Cuco lah. Ada temen kantor yang nanya, Zaf ga takut gelap-gelap? Wong kalo Zaf mau tidur aja lampu harus dinyalain, kalo dimatiin dia malah girang dan nyanyi-nyanyi sendiri, zzzzz


Sama panitia diinepin di Aston Marina, karena Hotel Discovery dan Mercure-nya udah penuh sama angkatan-angkatan atas. (Seniority still exist!). Aston Marina ini menurut saya rada aneh deh, bintang empat kan, tapi pelayanan rada parah. Dari mulai check in yang lama banget, terus room service yang dipanggil lamaaaaak, sampai lift yang rusak-rusak. Padahal udah laporan, tapi ga ditindak lanjut. Dua hari nginep disana naik turun selalu pakai lift barang, zzzz
Jadi, reuni selanjutnya dimana? Bali? *uhuk*

May 05, 2015

Family Trip: Kuntum Farmfield (Lagi!)

.... see previous post to read our experience strolling through Kebun Raya Bogor!

Kenapa lagi? Karena dulu udah pernah! Asumsi Zaf udah makin gede, rasanya dia udah makin ngerti dan makin seneng dong disini. Harga tiketnya naik jadi Rp. 30.000,- per orang (anak dibawah 2 tahun masih gratis), tapi tetep worth it! Jadi dibandingkan terakhir kesini, Kuntum sudah mengalami perluasan di bagian belakangnya. Kebun untuk petik sayuran organiknya makin luaaaaas (ngga lebay, serius luas banget), dan sekarang malah ada lahan untuk naik kuda segala. I love it, love it, love it!


Zafran gimana? Seneng dooong diaaa.. liat bebek sama ayam. -___- Yang lain biasa aja ga gitu tertarik. Kambing iya sih, dikit-dikit. Waktu terakhir kali dia masih umur enam bulan juga dia sukanya sama bebek/angsa. Konsisten yaaa...







Kaaaan... maksa masuk diaaa.. :))))


Kandang ayam, favorit Zaf. :p

Ini yang saya bilang perluasan kebun ke belakang. Keren.
Difoto malah main cilukba.
Yang dibawah itu lahan buat berkuda,

Definitely will come again! Bosen ngga ya Zafran? Saya pribadi sih ga bosen, dua trip sama-sama excited. Mudah-mudahan terus istiqomah yaaa yang punya Kuntum.

Family Trip : Kebun Raya Bogor

Walaupun beberapa bulan lalu kita bertiga udah pernah ke Bogor, akan tetapi long weekend ini saya dan suami memutuskan untuk pergi ke Bogor lagi. Alasannya... 1. Belum pernah ke Kebun Raya seumur hidup, haha.. 2. Belum pede pergi bertiga aja jauh-jauh (karena percayalah, pergi sama batita yang lagi aktif-aktifnya itu capek banget! Seriously, kalo dibilang pada beberapa titik serasa pingin pingsan itu, ya beneran banget, hehe.. 3. Mau ke Bandung, tapi bingung lokasi tujuan yang oke buat bawa batita. Ada ide?

Jadilah hari pertama kita cabs ke Kebun Raya Bogor. Sampai Bogor sekitar jam setengah 10, waktu rawan sebenarnya, karena Zafran biasanya tidur jam segitu. Dia udah mulai cranky walaupun masih ketawa-ketawa seneng liat danau dan mau nyebur. Oh ya, untuk persiapan kali ini nggak terlalu riweuh seperti biasanya, karena saya sudah mulai membebaskan Zaf makan seperti yang suami dan saya makan. MSG sekali-kali gapapa lah, it's holiday anyway. Bisa stress kalo bingung ngurusin makanan anak apa selama liburan aja.

Oh ya, sebelum mampir ke Kebun Raya saya mampir ke Lasagna Gulung Panggang dulu. Siap-siap kalo pas strolling di Kebun Raya Bogor (KRB) terus kelaparan. Jadi bekel dulu lasagna beefnya. Jadi setelah beberapa kali ke Bogor, selalu pingin ke Macaroni Panggang itu, tapi kok nggak kesampean juga. Kali ini juga salah mampir, malah ke lasagnanya. Tapi tetep enak kok.

Tiket masuknya kalo nggak salah 14.000 per orang, Zafran masih gratis. Petugasnya baik-baik, waktu stroller Zafran harus lewat tangga yang lumayan banyak, satpam disana langsung turun tangan. Pas pulangnya juga dibukain pintu satunya lagi sehingga stroller nggak usah lewat ke tangga lagi.






Kan bener kaaan.. baru strolling bentar aja langsung tidur, setelah sebelumnya cranky berat. Hadeuh..
Nah beginilah kelakuan bapak ibunya pas anaknya pules...
..... dan ini juga :))))



Pas udah mau pulang, doski malah bangun. Ternyata KRB ini luaaaas yaaa.. enak banget lari pagi disini kayaknya.
Overall sih saya dan suami (dan Zafran??) sangat menikmati perjalanan ke KRB ini. Tempatnya luas, jadi walaupun penuh pengunjung, nggak kerasa sesak juga. Bersih, hampir nggak ada sampah (sekali lagi, pengunjung domestik itu kenapa ya susah banget buang sampah pada tempatnya? Kan dimana-mana udah ada tempat sampah juga. Kzl maksimal deh.), dan walaupun saya disana sampai siang ngga gitu kerasa panas karena udaranya sejuk. Saya juga sempat masuk ke Museum Zoologi, dan amazed sama koleksinya. Lumayan lengkap lho! Cuma ya mungkin display harus dibuat lebih menarik lagi, dan promosinya digiatkan. Sayang banget soalnya. Oh ya satu lagi, parkirnya susah! Long weekend mungkin ya, parkir saya jauuuh sekali dari gerbang masuk utama.

Pingin kesini lagi? Mungkin someday, soalnya cocok banget kalo anak lagi seneng lari-larinya.. Hehehe..

March 23, 2015

Son is turning 1

Posting ini sebenarnya amat sangat telat, karena udah lewat sebulan lebih. Apa daya Februari anak dan suami bergantian sakit (huhu) jadi bener-bener deh sebulanan itu sibuk aja. Terus Maret ini adalah bulan yang sangat penting buat bankers (you know who you are, bankers!), jadilah ngga bisa terus update blog.

Jadi ada apa dengan Zaf? Di umur 13 bulan ini Zaf baru belajar ditatih, kalo kata orang-orang sih telah ya, tapi worry not sih, katanya kalsium Zafran ke gigi dulu, karena giginya Zafran sekarang udah sembilan! Hehehe.. ya sudahlah ya, no more comparisons with other kid (walopun emaknya tetep suka stalking-stalking instagram lain, haha).

Teruuus, Zaf udah bisa makan nasi! Haha.. kayak gitu aja dibanggain ya, whatever, ada saat-saatnya males banget masak buat Zafran, tapi sejak Zafran udah bisa mamam nasi walaupun masih berhamburan kemana-mana, berkuranglah satu kerempongan bikin bubur atawa nasi tim. BTW sih sekarang lagi seneng-senengnya masak (eciee..) soalnya anaknya juga lagi seneng-senengnya makan (alhamdu? lillaaaaah..). 

Dan apalagi apalagi? Aduh seriously masih dibayang-bayangin sibuknya bulan Maret, jadi inti ceritanya mau sharing foto-foto aja kali yah.






Bye! Til next time!

February 03, 2015

Semarang, Here We Come!

Karena terakhir kali Zafran ketemu eyangnya pas dia masih empat bulan (atau lima?) jadi tahun ini gol-nya Zafran bisa dibawa pulang kampung ke Semarang. I know, I know.. banyak banget ibuk-ibuk yang bawa anak bayiknya pergi-pergi jauh dengan usia yang lebih muda, tapiiii..buat saya jiper juga ya.. ngebayangin bawaannya Zafran (ASIP gimana ASIP? Mana hasil pumping lagi menurun lagi.. More on that later..). Tapi ya masa Zafran gak ketemu eyang sama pakle bukle-nya sih setelah sekian lama? Selain itu saya sama suami punya prinsip yang sama lagi, buat mudik bebawa anak pas lebaran... errr.. nanti dulu deh! Ribet dan pasti trafficnya nggilani. Awal-awal tahun ini sebenarnya waktu yang pas banget karena load kerja saya sama suami juga belum terlalu banyak.

Awalnya masih santai karena rencana pergi ke Semarang masih di bulan Februari, namun karena suatu hal (yang mana sekarang saya lupa apa suatu hal itu, hahaha..), akhirnya schedulenya dimajuin ke tanggal 17 Januari! Hehe, panik... panik.. akhirnya semua urusan tiket dan akomodasi disana diserahkan ke suami (yang mana baru pertama kalinya, terus dia rada kaget gitu, "Babe, kok aku ditelpon Garuda ya, diingetin flight besok? Selama ini aku belum pernah lho ditelpon gitu..". Hastagaa sayaaang, ya iyalah nggak pernah, selama pergi-pergi ini kan yang book apa-apa pasti istrimu ini, ya pasti gw juga keles yang ditelpon, hahaha..

Riweuh pertama soal ASIP, karena Zaf masih ASI exclusive, jadi harus bawa ASIP dan cari cooler bag gede yang rada mumpuni karena kita disana empat hari tiga malem, lumayan lama juga. Untung Garuda Indonesia sangat helpful, dan kita ended up bawa kurang lebih dua setengah liter ASIP beku di cooler bag yang terus di-wrap dan dimasukin bagasi. Selain itu kita juga bawa empat botol ASIP cair ke kabin. All is well lah. Tapi emang sebelumnya suami kontak-kontakan dulu sama staff Garuda Indonesia via email, dan emailnya diprint jaga-jaga kalo ada masalah pas check-in. Alhamdulillah sih ngga ada apa-apa.

Riweuh kedua soal MPASI. Yaaaah, walaupun makanan Zaf ngga netral banget dari gula garam dan kadang-kadang Zaf juga ikut jajan diluar, tapi so far sebagian besar dari makanan Zafran itu saya yang masak, jadi tau lah sebagian besar yang masuk ke tubuh Zaf. Dan saya juga ngga pernah nyoba MPASI instan.. lalala, jadi bingung, masa masak apa gimana yaaa.. In the name of nggak mau riweuh akhirnya kata suami, yaudah! Ngga usah masak! Makanan Zafran beli di jalan aja. Bubur atau roti-rotian gitu aja. Tapi akhirnya beli Heinz yang toples-toplesan gitu sih.. in case Zaf ga mau makan, soalnya terakhir jalan ke Bogor kan appetite Zafran parah banget, sampai emaknya stres, bzzzz. Terus akhirnya nyisip-nyisipin pure buah beku ke cooler bag ASIP karena masih ada space, hehe..

Ngga punya itinerary di Semarang, karena kata suami, "Babe.. ini bukan liburan ya.. ini mandatory visit..", hahaha. Jadi ya literally cuma pergi ke rumah mertua aja, dan untungnya yang awalnya ngeri Zaf ngamuk karena biasanya suka gitu kalo ketemu orang yang dia belum kenal, ternyata nggak! Dia behave banget sepanjang perjalanan, mulai dari ketemu pramugari (flirting!) sampai akhirnya ketemu keluarga di Semarang. Di pesawat juga gitu.. mommy deg-degan abis (I'm scared of death getting on plane, apalagi abis tragedi Air Asia itu, huhuhu..), Zafran seneng banget sama suara bising pas mau take off, dan heboh pas pesawat mulai jalan. Oke. Haha.. Dan alhamdulillah nggak penging juga.

Selama di Semarang juga Zaf makan banyaaaak, menyenangkan deh, akhirnya bisa ngerasain nyuapin Zaf setengah jam selesai! Mudah-mudahan bisa seterusnya gitu ya.. Amin, amin.. Hail to the Heinz lah, haha.. Sempet ngeri, jangan-jangan nanti di rumah dia nggak mau makan masakan mommy lagi setelah ngerasain enaknya makanan kalengan, tapi ngga kok ngga terjadi. Sampai sekarang makannya masih lahap dan kalem.

Nggak banyak foto-foto di Semarang, karena satu, hp rusak.. huhu.. literally item aja gitu layarnya, sedangkan rempong juga kalo tiap foto ngeluarin SGC.. kedua, booook.. capeee ya bok jalan bareng anak bayik yang lagi aktifnya ngerangkak.. Turun tiga kilo apa disana? (or not, karena makannya juga banyak? =p). Kayaknya tiap pagi Zaf bangun duluan daripada emak bapaknya, terus minta turun tempat tidur, terus abis itu ritual ngeliat kaca keluar (atau ngeliatin cermin) sementara kita berdua masih tepar di kasur. Capek! Hahaha, tapi worth it lah setiap detik dari perjalanan ini. Eyangnya nangis pas Zafran pamit pulang (iya Zafran.. kayaknya saya sama suami pulang gapapa deh, yang penting cucunya ditinggal), dan I am feeling like a bad guy here. Hihihihi..

'Til next vacation? Right!

Bawaan orang tuanya ya kira-kira cuma seperempat dari total ini lah.. Sisanya Zafran's!
Mamam nasi cah jamur di Bakmi GM. MSG Galooore...
Pemandangan favorit Zafran
Pemandangan favorit kedua Zafran =D
Pagi-pagi.. dimana orang tuanya masih teler, anak bayik udah minta turun kasur dan langsung cabs ke jendela.
Sky pool di hotel. Nice view, tapi karena di lantai 30.. anginnya kuenceeeng! Sempet ragu ngelarang Zaf turun karena takut masuk angin, tapi akhirnya berenang juga walau cuma sepuluh menit.


Sempet mampir Arto Moro. Yaay!
Pulaaaaang... :)