Pages

July 17, 2026

At least I am trying.

 2026 has been chaotic.

I am old. Or pretty old? I know that I've passed my youth. One day, I read Fahrenheit 451, and it was frighteningly similar to our situation nowadays. The wife was fixated on the parlor wall, and they could not have meaningful conversation because everyone was so busy with their devices. It is our condition, isn't it? Sometimes, when we lie on the bed after hours, busy with our phones, I remember the book, and I get scared. Tried so hard to make sure my kid doesn't attach to his screen; I tried. It's not perfect, but I tried. It scares me that I judge the young generation easily, but then I remember that we raise them. So, make it better. At least try. Try.

July 20, 2025

Hi again!

 It's been so long. Too long.

I truly had no idea whether I should try to write again in this blog. Sometimes, I'd be reminded that it was such a fun time hanging out and bloghopping. Today is so different. Very different. Two months ago, I decided I'd like to take my chance in the content-creating world. Still working on it right now. It is very different.

Life itself is not so different. While I've grown so much and older, I still feel the same. Clueless. Helpless. Nobody. I work hard every day. Be a mother. Be a wife. Try to be a good friend, also. I've been wondering a lot about my purpose in life. I thought it was a sure thing to do at my age? I thought a lot about death. Should I worry? Anything else is practically the same. I've been betrayed. But also, I got loved. So much love. So, it's not a bad thing, my life?



April 06, 2023

Geez

I miss writing. Writing nonsenses, writing what you feel without thinking too much or pausing in the middle of the sentence, considering words to type. I started writing in very young age, at 5 I was scribbling in my diary, and continued until I was in college, I have a box full of diaries with embarrassing content at home. After internet era (yeeeessss, I live between no-internet and internet guys, you must've already guess which generation I am in), I moved into blogspot and social media. Social media had been growing in very rapid (and I must say scary) way. Not that I didn't enjoy it. I just..... sometimes miss the old times. We kinda forced to follow fast pace in life, microblog, three to five minutes in Instagram, visual contents in Tiktok. It's not all bad, and some are very educating and inspiring, but I really miss bloghopping. Maybe I am just feeling nostalgic. Pretty sure every era has its ups and downs. I saw a graph one day on Instagram, describing relationship between age and time spent for yourself, family, colleagues, and so on, and I think my age is precisely when I am enjoying myself and limiting myself to others. Is it that bad? No, I think it is because I finally recognize myself and comfortable with it. I know who I am, what I want to be in life, what I want to contribute. Is it easy? Every day is struggle, there are good times and bad times. This morning, I was in really high pressure when I was deciding to open my old blogspot, and oh my god. Simplest time. Slower pace.

But, there is no going back, isn't it. So, let's move forward. As Charon said in John Wick, "Such is life".

November 12, 2020

November

 November guys! How've you been? Pheeeew, I can't believe 2020 is almost over, it passed like whooshes and left nothing? It's not that everything is bad and gruesome, some things were bearable and passable, but like bare-minimum only? It's like we've only tried to pass and survive our days with nothing intended. Some days were okay, some days were worse than other. There were nights when my eyes kept open and my thoughts wouldn't stop thinking the worse. This year is so hard. Hard, hard and hard. Human knew that they couldn't plan future, but uncertainty still killing us this time. I wish we could do better, but I think survive is maybe our best effort, and do some little things to help each other? Help is required, humanity is tested. Maybe we'll survive this, maybe we won't?

January 21, 2020

Tentang Zafran dan Speech Delay part 2

Wow.

Blog ini masih ada ya wow.

Jujur saya sedikit terkejut karena barusan ada yang email saya mengenai postingan saya disini. Ternyata blog saya masih ada yang baca lho! Ya dimaklumi sih, untuk ibu dengan anak speech delay atau spektrum lainnya pasti rajin googling pengalaman ibu sejenis, untuk mengatasi kepusingan sehabis konsultasi dengan profesional.

Jadi ibu ini tanya perkembangan Zafran sekarang seperti apa. Apakah Zafran  masuk SD untuk anak berkebutuhan khusus? Terapinya bagaimana? Apa yang orang tuanya lakukan hingga saat ini?

Hingga Desember 2019 kemarin Zafran masih terapi wicara dan okupasi sebanyak masing-masing dua jam per minggu. Mulai bulan Januari ini, saya dan ayahnya memutuskan Zafran stop terapi dengan beberapa alasan, diantaranya adalah:

  1. Zafran sudah dapat berkomunikasi dua arah. Walaupun dibandingkan perkembangan teman seusianya yang bisa membentuk kalimat panjang dan lengkap, dia masih belum bisa mengejar, akan tetapi dia sudah bisa menyampaikan kalimat-kalimat pendek, dan merespon pertanyaan.
  2. Motorik Zafran juga masih tidak sama dengan perkembangan teman-teman seusianya, akan tetapi menurut saya sudah cukup lumayan. 
  3. Terapi Zafran lokasinya cukup jauh dari rumah, dan bulan Juli dia sudah masuk ke SD. Saya berpikir akan cukup melelahkan kalau terapinya dilanjut, apalagi rencananya SD nanti akan saya masukkan ekskul atau les tambahan. Selain itu, jam terapinya membuat Zafran sering pulang duluan dari TK, sehingga sedikit mengganggu aktivitasnya.
SD yang saya pilih kemarin kebetulan adalah sekolah alam inklusi yang menyediakan guru shadow. Akan tetapi, ketika dilakukan trial, Zafran dapat masuk ke kelas normal. Tentunya ini disesuaikan dengan penilaian kepada masing-masing anak, dan saya serta suami juga akan legowo apabila pada pertengahan tahun pelajaran, misalnya sekolahnya memutuskan Zafran membutuhkan guru shadow. Selama Zafran di TK, Zafran cukup bisa mengikuti pelajaran, walaupun menurut gurunya Zafran sedikit "malas" bersosialisasi dengan anak seumurannya. Saya menarik kesimpulan, karena apabila bersosialisasi dengan orang dewasa, orang dewasa akan cepat mengerti meskipun Zafran cuma berbicara sepatah dua patah kata.

Selama pengalaman terapi saya kurang lebih empat tahun ini, saya belajar sesuatu. Untuk anak dengan kebutuhan khusus seperti Zafran, tidak ada milestone pasti untuk setiap anak, walaupun diberikan terapi yang sama. Ada yang berkembang dengan cepat, ada yang berkembang dengan lambat, ada yang tidak berkembang sama sekali. Ini bukan berarti saya mencoba membuat semangat orang tua yang lain down ya. Tapi memang karena spektrum kebutuhan khusus ini luas sekali, setahu saya belum ada ilmu pastinya bagaimana cara menyembuhkan anak. Bahkan setahu saya, setiap anak yang berkebutuhan khusus pasti akan "berbeda" dengan anak normal lainnya. Banyak yang bilang, Zafran termasuk beruntung karena terapinya "manjur" dan Zafran sudah bisa berkomunikasi dengan normal. Tapi untuk orang-orang yang berinteraksi dengan Zafran setiap harinya, pasti masih bisa merasakan "keanehan" yang dimiliki Zafran. 

Pengalaman dibully? Oh tentu pernah. Ada beberapa saat dimana Zafran disebut "aneh" oleh teman-temannya. Yah, untungnya anaknya belum mengerti, yang sakit hati tentu saja ibunya.Contohnya, masih ada yang bertanya kenapa Zafran masih belum bisa naik sepeda roda dua. Bagi anak-anak normal tentu saja pertanyaan itu wajar saja. Tapi untuk anak dengan kekurangan motorik kasar seperti Zafran, tentu saja sebenarnya saya sedikit kesal dengan pertanyaan tersebut, walaupun orang yang bertanya mungkin tidak mengetahui kondisi yang sebenarnya.

Saat ini Zafran sudah bisa menulis, walaupun kelihatan gripnya masih lemah. Ini juga PR buat saya, karena jujur, sejak saya berkerja kembali, saya meng"outsource"kan pengasuhan Zafran ke mbak di rumah. Otomatis pasti kegiatan-kegiatan yang bersifat theurapetic juga berkurang kan? Plus minus sih, di satu sisi Zafran juga sudah banyak berkegiatan di luar rumah.

Kalau ditanya masih galau nggak tentang masa depan Zafran, tentunya wajar untuk setiap orang tua galau tentang masa depan anak. Saya masih bertanya-tanya apakah nanti Zafran bisa memiliki teman-teman dekat, apakah Zafran bisa berkerja dengan normal, apakah Zafran akan bisa berkeluarga? But, one step at the time. Until next time.

PS. Terima kasih, mbak Citra untuk emailnya. :) :)

January 14, 2018

To the Moon and Back

Punya anak berkebutuhan khusus membawa banyak perubahan di dalam hidup saya. Yang paling terasa sih, saya menjadi less-competitive person. Rasanya sejak kecil saya selalu diberikan ekspektasi yang (saya pikir) cukup tinggi, harus selalu rangking satu, masuk akselerasi, IPK almost 4, orang tua saya tidak mau menandatangani buku ulangan kalau nilainya dibawah sembilan. Saya menjadi orang yang sangat kompetitif, not that a bad thing, dan mungkin sedikit entitled (?) karena (hampir) selalu bisa memenuhi seluruh ekspektasi yang diberikan kepada saya. Menjadi mahasiswa di umur 16 dan lulus di umur 20? Lumayan juga kan?

Jeleknya, saya selalu merasa terlalu keras dalam hidup saya sendiri. Once, my boyfriend (now my husband) said to me, you treat yourself too harsh. Gak pede. Selalu merasa ada yang kurang. Perfeksionis? Entahlah. Dan ini terbawa sampai saya kerja dan menikah.

Ketika saya punya Zafran, jujur saya mengingatkan diri sendiri, saya HARUS menerima anak ini apa adanya. Maybe, I would be half tiger mom, but yeah.. I really didn't know. Eh, turned out ternyata Zafran memiliki speech delay. Anaknya impulsif. So far Zafran tidak (belum?) didiagnosa masuk ke spektrum autis atau ADHD, tapi impulsivitasnya dinilai cukup tinggi.

Dan, punya anak seperti Zafran mengubah saya. Bisa dibilang hikmah? I don't know. But I learn to slow things down. Cool it a bit. Let it go. Ada beberapa jenis orang di hidup ini, ada yang menganggap hidup sudah sulit, why's so serious? Ada yang menganggap kerja keras dalam hidup ini sangat dibutuhkan karena untuk itulah kita hidup. Saya juga tidak tahu yang mana yang paling benar. Tapi saya belajar kalau ternyata menyederhanakan sesuatu, mengambil "pause" dalam hidup itu penting. Saya nggak mau mengatakan ini pengorbanan, karena saya yang memilih untuk punya anak (walau beberapa kali tersirat dalam hati sih, duuuuh Mama rasanya sudah berkorban banyak banget buat kamu nak..) jadi untuk bilang saya sudah berkorban demi Zafran rasanya gak fair kan?

Saya belajar untuk memperlambat hidup. Being less-competitive. Berhenti kerja, which is not gonna happen with five years ago-Dela. Gila lah, jadi wanita karir, memiliki gaji yang tinggi dan membawa keluarga saya ke next level wealthness itu salah satu goal saya dulu. Zafran masuk bilingual preschool? Zafran bisa menyusun tiga kata tanpa tercerai berai aja saya sudah alhamdulillah.

Jadi, walaupun terdengar amat klise, memang segala sesuatu itu ada hikmahnya. Note to myself, punya Zafran itu ada hikmahnya.




--- this is a self reminder how lucky I am to have you, son ---

To the moon and back ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ

January 01, 2018

Auld Lang Syne

As we grew up (or old?), hub and I started to ignore all these New Year brouhaha. This year is no exception. Yes, we ordered some deliveries but only because little one suddenly woke up at 10 pm and wouldn't get to sleep again. Guess he'd like to celebrate New Year after all. Or not. He was freaking out of firework. Not a big fan. He asked to be hugged every time he heard fireworks. So yeah.

2017 was awesome yet tiring for me. For us. We made some big decisions, life-changing ones (for us!). We spent almost half of our savings to renovate our little home. Thank God the result was amazing. But then, we made decision to move from that-said home to another city, simply because we wanted to live together as family, not having long distance one as we'd been living since many years ago.

So yeah, financially we're doomed. Haha. I was having severe homesick, although all this time I was the one who'd been buggering my husband to move out. I missed sleeping in my own bed, cooking in my own kitchen. But reality set in. Now this is our home too. Not perfect with freaking hot weather, but maybe let's try to live with it?

Little things happened too. I'd been learning to drive since last 2016, but in 2017 I started to drive on my own. 2017 marked the beginning of my job as my son's private Uber driver. Hahaha. Now I can proudly say that I've been experiencing some inter-state driving (and one of them, it was only both of us, my son and I, I still think it was some miracle), but I still sucks at parking. Why why why it's so difficult.

I do hope 2018 will be good to us. To everyone. I'll be 30 in 2018! Is it insane? Let's start the anti aging skin care regime then!

September 07, 2017

Long Weekend Kemarin...

Awalnya nggak ada rencana kemana-mana. Eh, sempet kepikiran buat ke Semarang.. cuma rasanya waktunya terlalu mepet dan suami nggak bisa extend cuti jadi yasudahlah... nggak usah dipaksain juga. Last minute akhirnya memutuskan buat staycation aja di dalam kota, karena males juga buat kemana-mana. The curse of being parents? No. I think this is the curse of being.... old. Hahaha... Deciding to stay at Hotel Anugerah because it has best coffee shop in town, and its dessert menus, and their pizzas. And it's located near a tasty ice cream joint in town. Dan Hotel Horison full booked karena Presiden Jokowi is in the town dan nginep disitu.

Singkat cerita, menyenangkan sekali sih. Berenang sampai sore, malemnya order in room dining trus masih tambah bungkus dari RM Ibu Bunut yang lokasinya cuma selemparan batu aja (dan yang katanya Jokowi juga makan disitu kemarinnya). Ngemil es krim dua scoop plus toping beng-beng dan FREE popcorn cuma habis 35.000 SAJA. No wonder kemarin ada selebgram (?) jalan-jalan ke Sukabumi dan semacam freaked out betapa murahnya pricelist restoran disini.

Kita bertiga cuma stay satu malam, karena asalnya mau malam mingguan di rumah aja.. eh tahu-tahu suami ngajakin caps ke Bandung. Berdua aja. Hahaha.. udah lama juga sih gak nginep berdua aja. So long, so long. Akhirnya titip Zaf ke neneknya, booking hotel dadakan dan off we go. Dari awal udah wanti-wanti diri sendiri nggak usah ambisius lah target kemana-mana, woles aja.. yang penting bisa jajan thai tea sama d crepes. Bahagia itu kadang emang receh banget deh.

Dan emang gak kemana-mana loh. Cuma mampir ke mall deket hotel aja, karena setelah enam tahun lamanya akhirnya sepatu lari saya jebol juga (I don't get any point in having more than one running shoes so I have no spare) jadi emang niatnya cuma mau ke Planet Sports aja cari sepatu lari. Dan jajan d crepes. Tetep ya. Makan malam kita delivery hokben aja ke hotel. Hahahaha.. We keep repeating we're getting old so we don't sweat the small stuffs, tapi emang dari dulu kalo lagi sama suami emang sukanya yang simple dan pasti-pasti aja sih. Mau hotel atau tempat makan. Kalau nyobain yang baru atau lagi hype enaknya sama temen-temen aja. We also didn't get the point of ngantri panjang dan lama-lama buat nyobain sesuatu yang baru dan lagi trending. We're that old. Haha.

Besoknya walaupun udah kenyang banget makan breakfast buffet di hotel, tapi sumpah kepo banget makan Cuanki Serayu padahal masih jam 11 siang. Tapi ternyata best timing sih pas sampai lokasi belum begitu ramai. Pas tengah-tengah kita makan baru deh orang berdatangan dan parkir udah mulai habis aja. Enak sih... tapi yaudahlah sebatas tahu aja, kalau sampai desek-desekan balik kesini sih nggak mau juga.

That's it. Now I am craving more holidays and breakfast buffets. Yeah right.. betapa sulitnya menurunkan dua kilo pasca Lebaran Idul Fitri dan hanya butuh long weekend tiga hari buat menaikkannya lagi. Lyfe.