September 05, 2017

Tentang Zafran dan Speech Delay

Beberapa kali saya ingin membahas masalah delayed speech pada Zafran, cuma semacam kurang pede euy. Karena keterbatasan pengetahuan dan informasi, yang saya tahu ya cuma dari dokter dan hasil googling dari forum-forum semata aja. Jadi disclaimer postingan ini.... saya hanya bercerita sesuai pengalaman yang sudah saya alami dan konsultasi dari beberapa dokter dan psikolog yang menangani Zafran ya.

Cerita awalnya dari mana ya... secara umum tumbuh kembang Zafran memang termasuk normal, walau selalu saja mepet deadline. Saya lupa sih, kapan pertama kali dia membalikan badan, duduk, merangkak, berdiri dan berjalan, tapi seingat saya semuanya masih masuk ke range normal, walaupun selalu saja di akhir-akhir batas usianya. Saya nggak terlalu cemas pada saat itu, toh katanya dulunya juga ayahnya termasuk terlambat berjalan.

Usia 22 bulan Zafran masih belum bisa berbicara, baru bisa babbling “Enah... enah...”. Itupun saya sebenarnya tidak begitu khawatir, walaupun menurut “kurikulum” seharusnya anak 22 bulan sudah harus bisa menguasai beberapa vocabulary. Hanya pada saat itu saya membuat kesepakatan dengan ayahnya, apabila pada saat usia 2 tahun Zafran belum ada perkembangan, akan kami konsultasikan dengan spesialis anaknya.

Saat Zafran usia 24 bulan, dan belum ada perkembangan dari babblingnya saat itu, saya dan suami datang ke spesialis anak langganan kami. Kebetulan DSA ini juga mengikuti tumbuh kembangnya Zafran, dan dia langsung menyimpulkan sepertinya anak kami memiliki speech delay. Waktu itu kami khawatir sih, cuma karena kurangnya informasi, ya kami menyangka kalau speech delay itu hanya terlambat berbicara tok. DSA mereferensikan kami ke dokter rekam medis, setelah dikonsultasikan dan tes pendengaran (alhamdulillah pendengaran Zafran baik-baik saja, sebenarnya waktu itu selain babbling Zafran juga sudah mulai bisa humming beberapa lagu, hanya memang belum bisa berkata sepatah katapun), Zafran didiagnosa speech delay. Dokter rekam medis saya di Hermina akhirnya “meresepkan” terapi wicara seminggu sekali.

Waktu itu pun saya mengira speech delay ini hanya berpengaruh terhadap kemampuan bicara saja. Zafran memang aktif, walau belum bisa disebut hiper, dan concentration span-nya pendek sekali. Tapi kan memang anak-anak belum bisa berkonsentrasi dalam jangka waktu lama bukan? Zafran sama sekali tidak suka nonton TV pada saat itu, tidak suka duduk bermain, senangnya jalan atau lari-lari saja kesana kemari di rumah. Nonton video pendek dia masih senang, hanya saya batasi karena salah satu saran dari terapisnya adalah mengurangi audio visual di rumah. Orang-orang di sekitar saya berkata, “Ah, anak kecil kan memang seperti itu, gak mau diem” atau “Ah itu mah anaknya belum bisa aja kali, nanti juga bisa sendiri” atau “Anak gw juga dulu gitu kok, nanti juga pinter sendiri udah gedean”, akhirnya saya mencoba membiarkan, walau rasanya memang ada yang salah dengan konsentrasi Zafran.

Selain itu, walaupun Zafran termasuk lincah, akan tetapi Zafran tidak suka bermain di playground yang ada tantangannya. Misal naik perosotan, naik ayunan, naik tangga atau semacamnya, sementara teman-teman sebayanya asyik memanjat-manjat. Naik sofa aja dia nggak mau lho. Inipun saya maklumi dalam hati, karena yaaa.. mungkin memang tipe anak saya seperti itu.

Selain itu, Zafran pun sulit diberi makanan yang keras. Ini memang sedikit banyak salah saya, karena waktu itu saya terlalu menyerahkan perihal makanan kepada pengasuh. Saya memang memasak makanan Zafran sendiri, akan tetapi pengasuh saya sering mengeluh apabila makanan tersebut tidak berkuah karena menurutnya Zafran sulit menelan. Waktu Zafran masih 8 atau 9 bulan pun saya pernah memergoki nasi tim yang saya siapkan dihaluskan lagi oleh pengasuh saya agar mudah ditelan. Padahal saya ingin Zafran bisa belajar mengunyah, akan tetapi saya saat itu pada posisi yang sangat membutuhkan pengasuh, dan akhirnya saya biarkan saja.

Setelah empat bulan terapi wicara, Zafran mengalami banyak perkembangan. Walaupun pengucapannya banyak yang tidak begitu jelas, Zafran sudah mulai mengenal beberapa kosa kata. Pengucapannya baru satu huruf, dan pertanyaannya belum terlalu jelas, akan tetapi pengenalan terhadap benda-benda di sekitarnya sudah lumayanlah. Akan tetapi komunikasi dua arahnya masih jelek sekali. Singkat cerita saya belum bisa ngobrol sama anak saya sendiri.

Pada saat itulah ada ketakutan Zafran menderita autisme. Dokter rekam mediknya meyakinkan saya bahwa Zafran tidak autis, karena responnya masih baik. Akan tetapi memang komunikasi dua arah, konsentrasi dan motorik kasar dan halusnya masih jelek sekali. Kemudian Zafran “diresepkan” terapi Sensori Integritas dan Okupasi untuk melatih konsentrasi dan motorisnya. Oh iya, waktu itu apabila Zafran diajak mengobrol, alih-alih menjawab, dia malah menirukan (imitasi) apa yang saya katakan. Dokter rekam mediknya juga menyarankan agar di rumah Zafran sering-sering diajak berbicara tentang apa saja, agar terbiasa berkomunikasi dan menambah kosa katanya.

Dua bulan setelah itu saya resign. Selain lelah dengan pekerjaan, saya juga merasa bersalah dengan kondisi anak saya. Saya tahu kalau mungkin ini bukan salah saya semata, tapi dokter berkata salah satu penyebab speech delay anak saya adalah kurangnya stimulasi di rumah. Memang benar ada anak yang tumbuh kembangnya baik-baik saja tanpa harus ada stimulasi apapun, tapi sayangnya anak saya tidak termasuk anak-anak itu. Penyebab lain speech delay adalah oral-motor issues yang dapat disebabkan oleh autisme. Akan tetapi dokter saya meyakinkan saya kalau Zafran tidak autis, dan penyebabnya lebih ke stimulasi dan efek psikologis dari cara membesarkan anak di rumah.

Setelah Zafran setahun diterapi, saya berinisiatif mendatangi salah satu psikolog yang juga memiliki development center untuk anak berkebutuhan khusus. Tempat terapinya ini sudah ada dimana-mana jadi sepertinya kredibilitasnya cukup baik. Saya menanyakan hal yang sama, apakah anak saya memiliki autisme. Jawabannya tetap tidak. Zafran memiliki apa yang dinamakan speech delay in absentia, dimana gangguan konsentrasinya cukup parah. Dia juga mengiyakan apa yang dikatakan dokter rekam medik saya yang terdahulu, bahwa penyebabnya adalah stimulasi dan cara parenting di rumah. Selama ini saya membiarkan Zafran menggunakan tangan kanan dan kirinya, ternyata itu tidak dianjurkan. Saya baru tahu kalau Zafran sebaiknya dianjurkan menggunakan tangan kanannya, agar otak kirinya bisa terus bekerja, dan meningkatkan daya konsentrasinya. Hanya boleh menggunakan satu bahasa saja di rumah. Tidak mengiyakan permintaan anak kecuali si anak mengatakan apa maunya. Terkadang saya suka mengambilkan susu misalnya apabila Zafran menunjuk susu. Hal itu sebaiknya dihindari, supaya anak bisa menyampaikan maunya melalui kata-kata.

Selain itu penggunaan gadget, tv atau bentuk audio visualnya saya kurangi. Zafran diminta diet gula dan gluten oleh psikolognya, dan saya ikuti. Sebisa saya. Hehehehe. Untungnya Zafran belum dibiasakan jajan, sehingga dia jarang meminta biskuit atau wafer. Roti dan mie juga saya kurang seminggu sekali. Yang sulit memang kerupuk (!) dan susu uht vanilla, karena sejak lepas ASIP, Zafran saya beri sufor berperasa, jadinya setelah itu dia tidak mau susu UHT yang plain.

Saat ini Zafran mengikuti 4 jenis terapi, behaviour therapy, sensory integrity, terapi wicara dan okupasi terapi. Total terapinya enam jam saja seminggu. Selain itu Zafran saya ikutkan playgroup dari Senin sampai Jumat untuk mengasah aspek sosialnya, karena salah satu efek dari speech delay ini adalah kurangnya tingkat sosial anak dan kesulitan bonding dengan teman sebaya. Banyak kok yang komentar kasian banget anak umur tiga tahun sudah “disekolahkan” sedemikian rupa. Saya juga kadang kasian kok liat Zafran. Cuma sekarang anaknya sudah terbiasa, jadi sepertinya dia enjoy saja. Tidur siang saja sudah jarang. Untungnya sekolah alam dan tempat terapi yang dia ikuti punya konsep yang fun, sehingga anaknya seperti diajak bermain. Saat ini malah Zafran lebih excited kalau harus terapi dibanding sekolah, hehe..

Di rumah saya juga melakukan “terapi” pada Zafran. Dari mulai saya ajak bicara terus-terusan, menggambar, mewarnai, membaca kartu. Sebenarnya hal-hal yang remeh keliatanya, tapi percaya deh sulit dilakukan pada anak yang tingkat konsentrasinya rendah.

Sekarang usia Zafran tiga tahun tujuh bulan. Tepat hari ini. Kosa katanya sudah lumayan sekali, terapisnya bilang dia termasuk anak yang mudah mengingat. Sudah bisa berkomunikasi lumayan baik, walau kadang-kadang orang lain (selain saya) suka kurang memahami perkataannya. Masih suka out of place di tengah pembicaraan, yang diomongin apa, tau-tau dia nyeletuk apa atau nyanyi apa. Sulit dijelaskan, bakalan tahu kalau sudah pernah berinteraksi dengan Zafran. Sudah bisa naik tangga sendiri, tapi turun tangga masih suka takut. Sudah mau main perosotan, walau kadang suka mandeg di puncak atau teriak-teriak heboh pas meluncur kebawah.

Kadang saya suka takut membayangkan masa depan anak saya. Saat ini semuanya masih abu-abu, suami saya sih bilang sepertinya Zafran itu normal walau termasuk yang terlambat. Saya masih takut sih, walaupun saya yakin pasti ada jalan kedepannya. Tahun depan Zafran seharusnya masuk TK A, apakah dia sudah bisa dimasukkan TK? Apa dia bisa masuk SD sesuai dengan jadwalnya? Saya nggak tahu. Yang pasti saat ini saya dan suami berusaha memberikan yang terbaik aja buat Zafran, selama kami bisa.


No comments:

Post a Comment