September 12, 2009

Takut.

takut.

manusia selalu merasakan itu kan?
Entah itu manusia paling berani sekalipun.
Entah itu pahlawan super yang selalu bersembunyi di balik topengnya setiap hari.
Entah itu presiden negara adidaya sekalipun.

Saya sering merasa takut.
Entah dari kapan rasa itu selalu muncul.
Masa kanak-kanak saya pun dipenuhi dengan banyak rasa takut. Takut kegelapan. Takut gagal mendapat peringkat satu. Takut ditinggalkan teman. Takut dimarahi guru dan orang tua.

Tumbuh dewasa, rasa takut itu masih ada. Yang lucu, kadang-kadang rasa ketakutan itu tidak membuktikan apa-apa.
Masa SMA.
Saya takut ketika mommy menyuruh saya masuk kelas aksel. Bayangan steorotipe teman-teman yang nerdy, dan selalu belajar dengan keras memenuhi kepala saya. Saya takut akan kehilangan waktu bermain saya, bersenang-senang, dan menikmati masa SMA saya.
Kenyataannya, teman-teman sekelas saya jauh sekali dari kata rajin dan nerdy. mereka seperti anak-anak SMA lainnya yang suka main ke mall, nongkrong sehabis pulang sekolah. saya sangat menikmati masa SMA saya, dan tidak ada penyesalan sama sekali, walau saya hanya menghabiskan 2 tahun di tempat itu.

Masa kuliah.
Saya lulus PMDK di salah satu universitas di Semarang.
Takut lagi.
Bagaimana tidak?
Saya belum pernah ke Semarang sekalipun, tidak punya saudara sama sekali disana. Kota yang benar-benar asing bagi saya.
Dan saya akan menghabiskan 4 tahun disana! jauh dari teman-teman saya, tidak ada satupun yang diterima di universitas yang sama dengan saya. tapi berbekal tekad kuat dari mommy (untunglah mommy bukan ibu yang memanjakan anaknya. Selama saya di Semarang, saya hanya dijenguk 3 kali! dalam 4 tahun!), akhirnya saya berangkat juga ke Semarang.
Pada akhirnya, saya bahagia disana. Menenukan satu keluarga baru, teman-teman yang selalu menjaga. Mereka yang tulus, yang membuat saya kerasan.

Lulus kuliah.
Saya dihadapkan pada dua pilihan tempat kerja yang begitu berbeda.
dan takut itu datang lagi.
saya takut memilih.
takut dengan segala konsekuensi yang akan datang dengan pilihan saya.
takut dengan masa depan yang tidak saya ketahui.
takut saya salah memilih, dan segala sesuatunya tidak berjalan sesuai dengan yang saya harapkan.
tapi, saya tetap harus memilih kan?
and i did it.
Guess what? saya puas dengan pilihan saya. Saya sangat bangga bekerja disini.

Sebulan saya bekerja, saya dikirim ke Medan.
takut lagi.
takut dengan orang-orang baru, dengan suasana baru, dengan segala sesuatunya disana.
tapi apa yang terjadi?
ketika saya harus kembali ke jakarta, saya malah menangis tersedu-sedu, tidak mau meninggalkan Medan.


Hari ini.
Rasa takut itu datang lagi.
Tumbuh lagi perlahan, merayapi pelan-pelan di hati saya.
Saya berharap, bahwa ini hanya sementara.
Bahwa, pada akhirnya, saya bisa menemukan sisi terangnya seperti yang biasa terjadi.

7 comments:

  1. Wuz up Della?

    takut kenapa?

    mo disuruh kawin ya :p
    hehehe

    ReplyDelete
  2. rasa takut, cemas, gelisah itu fitrah bu. :-)

    yg bukan fitrah adalah mendramatisir sesuatu yg belum trjadi. :-)

    kunciny, cuman 1, logika. krn takut adlh bagian dr perasaan.

    ReplyDelete
  3. bukan kawin yang pasti mbak eka.. :p

    ReplyDelete
  4. Takut, tak bisa memanfaatkan yang sudah diraih selama ini...

    Maka ketakutan seperti inilah yang bisa memacu seseorang untuk selalu berguna bagi diri dan lingkungan sekitarnya...

    Bettuulll ??!!

    ReplyDelete
  5. iya!!!
    betul..
    takut bisa jadi motivasi juga ya..

    ReplyDelete
  6. tapi akhirnya ketakutaN itu g terbukti khaN??!! ;p

    ReplyDelete
  7. iya siii... cuma tetep aja ngerasa takuuuut.. :(

    ReplyDelete