August 23, 2017

After Resign

Nggak kerasa awal September nanti adalah tepat satu tahun setelah saya berhenti bekerja. Seriusan nggak kerasa, Satu tahun, saya nggak nyangka saya bakal bisa betah di rumah selama itu. Saya kira sebentar saja saya bakal merengek frustasi ke suami supaya bisa kerja lagi (it happened! Sometimes!) atau stress karena di rumah terus-terusan. Banyak sekali perubahan di kehidupan saya, cerita sedikit saja ya... siapa tahu ada yang mau membaca dan terinspirasi untuk resign juga :p

Keuangan

Dari awal merencanakan untuk mengundurkan diri, memang keuangan merupakan salah satu hambatan utama saya. Karena suami dan saya merupakan kelas pekerja, ya kalo nggak bekerja ya udah, nggak bisa ngapa-ngapain. Nggak bisa berharap dari orang tua apalagi warisan. We are one of that sandwich generation, kalo kata Ligwina Hananto. Makanya keuangan menjadi concern utama, bagaimana nanti dana pendidikan Zafran, bagaimana membantu orang tua dan adik masing-masing, dan bagaimana KPR lunas (!!!). Itu garis besarnya sih. Tapi jauh di lubuk hati yang paling dalam, sebenarnya saya sedikit ngeri mengubah lifestyle. Hahahaha, receh banget nggak sih? Tapi jujur aja, pasti ada yang mikirin ini juga kaaaan? Masih bisa jalan-jalan keluar pulau (atau keluar negeri) tiga bulan sekali atau nggak (which is sulit juga dilakukan waktu saat bekerja sih, permohonan cuti aja diinterogasi setengah mati #curcol), masih bisa nongkrong cantik di coffee shop favorit apa enggak, masih bisa beli liquid lipstick sekaligus enam apa enggak (lagian beli sekaligus enam, bibir cuma satu -___-). Saya juga berpikir seperti itu, walaupun beberapa teman saya meyakinkan kalau ketakutan itu nggak akan terjadi. Kuncinya adalah suami yang pengertian. Hahaha...

Setelah saya resign dan saat ini belum memiliki penghasilan sendiri, ketakutan saya banyak yang nggak terbukti lho. Kok masih bisa ya pergi kesana sini, have fun, online shopping dimana-mana? Tentunya semua juga terbatas sih, tapi jaman dulu bekerja juga semua ada batasnya juga. Mengalami tanggal tua? Sebelum dan setelah bekerja saya masih mengalami tanggal tua. Jadi perbedaannya apa?

Tampaknya pekerjaan saya yang bikin stress setengah mati membuat saya menganggarkan satu post keuangan untuk membuat saya tetap waras. Nah itulah biasanya yang membludak setengah mati. Sekarang saya di rumah jarang punya waktu luang membosankan untuk googling online shop dan tiba-tiba klik sana sini dan belanja. Kadang terjadi sih. Tapi nggak separah dulu waktu masih bekerja. Intinya nggak seseram yang saya bayangkan sebelum ini. Minimal, walaupun dana pensiun masih belum terkumpul tapi dana darurat sih masih ada yaaaa...

Kenapa nggak usaha, cari uang sendiri? Kan akan lebih baik kalau wirausaha, jadi womenpreuner atau apapun itu? Yang pertama, nggak bakat. Hahaha.. Yang kedua, pemalas. Iya loh, saya pemalas. Yang ketiga, ada satu alasan yang sebenarnya malas diceritakan disini karena kesannya pembelaan diri aja, jadi kita skip aja yaaa... #nggakniat

Sehari-hari

Sebelum resign : Kerja
Setelah resign : Kerja

Loh kok sama sih? Ya iya emang, kadang malah saya nggak punya banyak waktu buat leyeh-leyeh di rumah karena harus jadi uber driver, koki, guru dan dokter buat anak saya. Emang ya, punya anak sekarang itu riweuh banget, jaman dulu kayanya dilepas aja bebas. Tapi emang mau apa anak dilepas kesana kemari? Belum awal-awal resign saya menganggap ibu rumah tangga harus accomplish yang sama dong sama ibu bekerja. KPI-nya harus memuaskan. Tapi capek banget loh kaya gitu, malahan jadi suka kesel sama anak sendiri. Mending yang cukup-cukup aja, cukup memuaskan.
Kangen kegiatan kantor? Ih, banget. Tapi bukan kangen kerjanya. Kangen bisa istirahat sebentar sehabis makan siang. Kangen bisa makan siang dan ngobrol sama temen kantor. Kangen gajian. Ah, ini mah saya aja kali, kurang berambisi.

Happy nggak?

Pernah baca di blog seseorang, kalau nggak salah Leija's, kalo happiness is process, not result. Menurut saya ya kebahagiaan saya saat ini ya proses juga. Naik turun. Sama ajalah pas masih bekerja. Kadang ada saatnya saya wondering, hidup begini amat ya, udah susah-susah cum laude tetep aja berkutatnya di dapur. Tapi ada saatnya juga saya menyesal kenapa nggak resign dari anak saya lahir aja dan megang anak sepenuhnya. Kadang saya sedih nggak bisa bantu suami cicil-cicil KPR. Tapi kadang saya juga senang saat ini bisa punya waktu senggang, bisa lari pagi, bisa belajar masak dan bisa berkomunikasi sama anak lebih baik.

Jadi resign jangan?

Ya jangan lah. Hahahahaha. Semua tergantung sih, saya merasa pekerjaan saya yang dulu not worth it. Makanya resign. Bukannya saya bilang kalau ada pekerjaan yang sebanding sama anak dan keluarga ya, tapi saya percaya kalau perempuan itu punya hak untuk memilih. Lagipula kebahagiaan ibu saat berpengaruh kepada kebahagiaan keluarganya juga, ya nggak?

4 comments:

  1. sukak, boleh dishare di medsos gw? hahaha... - vega

    ReplyDelete
    Replies
    1. Boleeeeeh... walaupun malu. Hahaha..

      Delete
    2. Boleeeeeh... walaupun malu. Hahaha..

      Delete
  2. Setuju mba, pekerjaan yg dulu nggak sebanding..

    ReplyDelete