January 14, 2018

To the Moon and Back

Punya anak berkebutuhan khusus membawa banyak perubahan di dalam hidup saya. Yang paling terasa sih, saya menjadi less-competitive person. Rasanya sejak kecil saya selalu diberikan ekspektasi yang (saya pikir) cukup tinggi, harus selalu rangking satu, masuk akselerasi, IPK almost 4, orang tua saya tidak mau menandatangani buku ulangan kalau nilainya dibawah sembilan. Saya menjadi orang yang sangat kompetitif, not that a bad thing, dan mungkin sedikit entitled (?) karena (hampir) selalu bisa memenuhi seluruh ekspektasi yang diberikan kepada saya. Menjadi mahasiswa di umur 16 dan lulus di umur 20? Lumayan juga kan?

Jeleknya, saya selalu merasa terlalu keras dalam hidup saya sendiri. Once, my boyfriend (now my husband) said to me, you treat yourself too harsh. Gak pede. Selalu merasa ada yang kurang. Perfeksionis? Entahlah. Dan ini terbawa sampai saya kerja dan menikah.

Ketika saya punya Zafran, jujur saya mengingatkan diri sendiri, saya HARUS menerima anak ini apa adanya. Maybe, I would be half tiger mom, but yeah.. I really didn't know. Eh, turned out ternyata Zafran memiliki speech delay. Anaknya impulsif. So far Zafran tidak (belum?) didiagnosa masuk ke spektrum autis atau ADHD, tapi impulsivitasnya dinilai cukup tinggi.

Dan, punya anak seperti Zafran mengubah saya. Bisa dibilang hikmah? I don't know. But I learn to slow things down. Cool it a bit. Let it go. Ada beberapa jenis orang di hidup ini, ada yang menganggap hidup sudah sulit, why's so serious? Ada yang menganggap kerja keras dalam hidup ini sangat dibutuhkan karena untuk itulah kita hidup. Saya juga tidak tahu yang mana yang paling benar. Tapi saya belajar kalau ternyata menyederhanakan sesuatu, mengambil "pause" dalam hidup itu penting. Saya nggak mau mengatakan ini pengorbanan, karena saya yang memilih untuk punya anak (walau beberapa kali tersirat dalam hati sih, duuuuh Mama rasanya sudah berkorban banyak banget buat kamu nak..) jadi untuk bilang saya sudah berkorban demi Zafran rasanya gak fair kan?

Saya belajar untuk memperlambat hidup. Being less-competitive. Berhenti kerja, which is not gonna happen with five years ago-Dela. Gila lah, jadi wanita karir, memiliki gaji yang tinggi dan membawa keluarga saya ke next level wealthness itu salah satu goal saya dulu. Zafran masuk bilingual preschool? Zafran bisa menyusun tiga kata tanpa tercerai berai aja saya sudah alhamdulillah.

Jadi, walaupun terdengar amat klise, memang segala sesuatu itu ada hikmahnya. Note to myself, punya Zafran itu ada hikmahnya.




--- this is a self reminder how lucky I am to have you, son ---

To the moon and back ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ

No comments:

Post a Comment