March 13, 2013

[MOVIE REVIEW] Zero Dark Thirty

Holiday means good food and good movie!

Selasa kemarin libur karena Hari Raya Nyepi, prove that it's really good to have religion diversity in our country, see? Liburan berarti makan banyaaaak dan nonton film dan series yang banyak! Good day yesterday, pagi-pagi dimulai dengan masak sarapan buat mama dan suami. What, masaaak? Iyeeeh, nggak canggih kayak chef-chef atau ibuk-ibuk yang suka posting resep di blog itu kok, kemaren cuma bikin roti gulung goreng yang resepnya diambil dari sini. Kemarin sempet buat ini cuma beef pastraminya saya ganti kornet, dan saya tambahi buncis dan wortel dicincang, dan enak! Makanya kemarin pagi mau saya ulang lagi keberhasilan saya, tapi.. errrr, kornet yang isinya masih setengah kaleng di kulkas ilang duunk. Akhirnya resepnya diimprovisasi jadi manis-manis, rotinya diolesi mentega, dikasi coklat cair dan keju yang banyak, terus selanjutnya sih langkah-langkahnya sama, dan alhamdulillah Mamah sama suami suka, jadinya abis deh sebelum difoto T___T" bread crumbs itu emang ajaib, segala yang dikasih itu enak kayaknya, hehehe..

Udah, udah, kan ceritanya mau review film, kenapa jadi ngomongin roti ini *glek,lapar* Jadi, setelah sekian lama ngidam nonton Zero Dark Thirty, akhirnya kemarin berhasil juga nonton film ini. Penasaran karena film ini merupakan dramatisasi dari perburuan Osama Bin Laden, directed by the one and only Kathryn Bigelow, dan banyak banget dapet nominasi waktu Golden Globe dan Oscar kemarin.


Lima belas menit pertama dari film ini aja, duh, hati rasanya mencelos banget liat interogasi yang dilakukan CIA ke salah satu tahanan yang dipercayai pernah kontak langsung dengan OBL. Maklum OBL dikenal nggak menggunakan telepon sejak tahun 2008 dan sejak itu dia menggunakan kurir-kurir terpercaya untuk menyampaikan pesannya. Interogasi yang penuh penyiksaan ini yang konon menjadi salah satu aspek penuh kontroversi dari film ini, karena film ini dianggap pro-torture. Jujur saja saya juga nggak tega liat tawanan diperlakukan seperti binatang demi mendapatkan sepotong informasi. Harusnya buat mesin kayak di Person of Interest aja ya, langsung dapat nama tanpa harus menyiksa tahanan.

Di scene-scene awal ini kita diperkenalkan kepada salah satu agen muda CIA bernama Maya, yang ceritanya baru ditugaskan di Pakistan. Si Maya ini direkrut langsung dari high school, dan selama dia jadi agen CIA, dia memfokuskan diri ke intelejen yang berkaitan dengan OBL. Sejak tahun 2003-2011, dia nggak pernah ngerjain hal ini, just OBL.


Karena udah duluan nonton Homeland, mau nggak mau sosok Maya ini ngingetin saya ke Carrie di serial tv Homeland. Sama-sama agen CIA, terobsesi sama sosok penting dalam terorisme (Carrie is deeply obsessed by Abu Nazir), teorinya nggak dipercaya sama orang-orang, dan tetep keukeuh mempertahankan pendapatnya. Sebelas dua belas lah mereka.

Carrie Mathison - Homeland
Maya ini punya teori tentang salah satu orang kepercayaan OBL, kurir pribadinya, yang namanya sering disebut di berbagai interogasi dengan beberapa tahanan. Cuma sampai saat ini belum ada yang tahu nama asli kurir tersebut, yang biasa dikenal dengan nama Abu Ahmed Al Kuwaiti. Maya percaya kalo bisa nemuin si Abu Ahmed, dia bakal mudah menemukan lokasi OBL. Dimulailah pencarian Abu Ahmed yang tentunya nggak gampang ini, sedikit yang percaya sama teorinya Maya, dan berpikir kalo dia mengada-ngada. Sampai di satu saat, ada analis yang mengemukakan teori bahwa nama asli Abu Ahmed adalah Ibrahim Sayeed. Dan tahu nggak harga yang harus dibayar CIA untuk mendapatkan nomor telepon ibu dari Ibrahim Sayeed? CIA harus menyuap seorang Pangeran Kuwait dengan sebuah Lamborgini! Wow.


Karena cerita ini merupakan dramatisasi dari cerita aslinya, tentunya semua orang udah tau dong endingnya gimana, dan apa yang terjadi sama OBL selanjutnya. Tapi walaupun udah tau endingnya, tetep aja film ini menghadirkan suasana suspense yang mencekam dari awal sampai akhir. Walaupun durasi film mencapai 2.5 jam lebih, akan tetapi saya nggak ngerasa bosan sedikitpun menonton film ini.

Untuk Zero Dark Thirty... 4 of 5 stars. Very recommended!

PS. Setelah nonton film ini, keingetan sama salah satu episode terbriliannya The Newsroom, yang judulnya 5/1. Cocok juga abis nonton Zero Dark Thirty, langsung disambung sama episode The Newsroom yang itu. :p

1 comment:

  1. wah saya jadi pengen nonton, kalau ada yang nemenin :p

    ReplyDelete